Minggu, 05 Agustus 2018

Indonesia Membutuhkan Revolusi Adab


Oleh : Al. Azzad 

Belakangan ini sebagian kelompok masyarakat merasa bahwa situasi kebangsaan penuh dengan sentimen, ujaran kebencian, ketegangan dan sebagainya. Sehingga menginginkan situasi yang adem, ayem, santun, ramah serta penuh kedamaian. Harpan itu sah-sah saja selama itu demi kebaikan dan kemajuan bangsa tentunya. Dalam hal ini masing-masing memiliki ukuran dan penilaian sendiri terhadap kebenarannya sendiri, sekaligus tentang santun maupun kedamaian itu dengan pandangan masing-masing. Indoensia beragam suku, budaya, ras, agama dan adat istiadat tentu banyak memiliki perbedaan karakter serta perbedaan mendasar lainnya. Ada yabg tipekal suara vokal, lantang, keras, tegas, lugas, jelas namun ada sebaliknya pendiam, pelan, intonasi rendah itulah keberagaman. Bukan lantas merasa paling baik dan benar sendiri sehingga menafikan yang lainnya. Perlu disadari hal ini melalui sejarah tentunya, agar pemahaman yang dimiliki tidak hanya sebatas pemahaman kontemporer yang orientasinya ialah individualistik, kapitalistik, liberalistik dan sekuleristik. Karena keberagaman itu telah aja sejak bangsa Indonesia pun belum lahir dan semua memiliki kehidupannya masing-masing dengan caranya masing-masing pula. 

Perlu disadari bahwa situasi saat ini ialah hasil dari revolusi mental yang telah didoktrin begitu radikal sehingga sangat mengakar. Akibatnya bila tak sepemahaman dan satu pandangan main gebuk, main persekusi, main anarkis, main kasar dan main cara-cara brutalisme bahkan premanisme. Memang hal itu tidak lain tidak bukan karena yang diinjekkan ialah revolusi mental, sehingga mental yang hadir ialah mental bekuasa, mental menekan, mental intervensi, mental intimidasi, mental paling benar dan sebagainya. Indonesia itu sudah lulus dan khatam dengan urusan mental sejak zaman para pendahulu. Lahirnya dan merdekanya bangsa ini karena besarnya dan kuatnya mental moyang bangsa ini dalam memperjuangkan, mempertahankan dan memajukan Indonesia. Selain itu juga para tokoh pendahulu adalah terlahir dari manusia-manusia cerdas, intelektual dan bahkan memliki adab yang tinggi. Berbeda halnya dengan saat ini, revolusi mental justru menghasilkan dan melahirkan mental anak bangsa layaknya imperialis, kolonialis dan sangat hedonis. Memahami dan memaknai revolusi mental ini justru menjadi bentuk destruksi moral anak bangsa yang akhirnya sikap agresifitas yang sangat tinggi untuk saling merasa kuat dan akhirnya tekan menekan dan ancam mengancam bahkan saling melontarkan ujaran kebencian dan ujungnya ialah merasa paling benar dan memaksakan akan pembenaran secara mutlak. Revolusi mental rasa penjajah telah menjadi doktrin rusak generasi bangsa memperlihatkan sikap angkuh, arogan, agresif dan sangat jauh dari sikap egaliter. 

Indonesia membutuhkan revolusi adab untuk memperbaiki etika, moral, akhlak, sikap, perilaku, perbuatan anak bangsa yang semakin hari semakin tidak menjunjung tinggi integritas dan moralitas. Bangsa yang besar itu adalah bangsa yang beradab bukan bangsa yang berevolusi mental dengan arogansi yang setinggi langit. Sebab dengan revolusi adab itulah bentuk dari manifestasi pancasila sebagai sila ketiga kemanusiaan yang adil dan beradab. Keadilan itu ada karena manusia yang beradab dan keadaban ialah mutlak menjadi doktrin dan paradigma masa kini. Terlepas dari dampak positif, revolusi mental justru lebih banyak masuk ke jurang pada dampak negatifnya dan itu terbukti serta dapat dirasakan saat ini. Justru dampak positif revolusi adab lah yang banyak manfaatnya ketimbang dampak negatifnya. Orang yang menanamkan nilai revolusi adab lebih menghargai perbedaan, menjaga kerukunan, sangat humanis, bersikap egaliter, dan mampu membawa diri terhadap situasi, keadaan dan kondisi apapun. Adab yang tinggi akan melahirkan peradaban manusia yang cerdas secara intelektual, emosional, spritual, sosial, dan manajerial. Mampu mengelola diri dengan baik sehingga tidak serampangan seperti nilai revolusi mental yang asal tabrak sana tabrak sini tidak peduli aspek agama, hukum, sosial, budaya dan etika. 

Itulah kenapa Indonesia saat ini membutuhkan generasi yang memiliki kesadaran tinggi untuk menanamkan nilai revolusi adab pada dirinya. Agar mampu membawa bangsa ini menjadi bangsa yang bermartabat dan bersahaja. Orang yang beradab tentu orang yang sadar secara spritual dan emosional sehingga mampun mengendalikan diri dari sikap agresif yang menimbulkan perpecahan, kekerasan, intimidasi dan intervensi. Generasi yang berevolusi adab itu bagian dari generasi emas dan cemerlang yang mesti dijaga agar tidak terkontaminasi dengan virus, penyakit, dan sifat-sifat destruktif. Mental itu sudah dipupuk bahkan sejak dini, apalagi Indonesia saat ini mengalami kemajuan dalam bidang pendidikan. Dimana para pelajar dapat berprestasi sesuai dengan kemampuan, minat, bakat, keahlian, dan keinginannya dalam menentukan masa depan yang itu pasti berawal dari pondasi mental yang kuat. Sehingga mampu tampil percaya diri terhadap kreativitas, imajinasi dan segala aktivitas kemampuan masing-masing. Tak ada lagi keraguan terhadap mental anak Indonesia sehinga tak perlu ditanamkan revolusi mental yang berkiblat sekuler-liberal mental penjajah.

Untuk itu perlu ditanamkan dan ditekankan pada generasi muda tentunya agar dapat mengaplikasikan revolusi adab dalam kehidupannya. Sebab di dalam revolusi mental itu  telah dirusak, dimanfaatkan dan didominasi oleh pihak-pihak yang hanya mencari keuntungan semata sehingga tidak bertanggung jawab secara utuh yang mengakibatkan generasi sata ini sangat hedonis, konsumtif, terlalu kebarat-baratan, menghilangkan budaya ketimuran, berbangga diri dengan sesuatu dari brand asing, malu dengan budaya sendiri, tidak menghargai hasil karya sendiri dan suka dengan hal-hal yang berfoya-foya. Revolusi adab untuk kembali menyadarkan seluruh anak bangsa agar menjadi pribadi dan karakter kuat, mandiri, berintegritas, menjunjung moralitas, memiliki spritualitas seperti para pahalwan terdahulu dan para tokoh bangsa yang telah membesarkan bangsa ini. Dengan adab semua akan berjalan dengan baik dan semua akan kembali pada khittah yakini pada garis-garis perjuangan yang benar yang telah dicontohkan oleh generasi beradab sebelumnya. Sehingga dalam situasi apapun khususnya dalam kondisi kontestasi demokrasi politik sekalipun, semua akan berjalan dengan baik dan lurus sesuai amanat dan undang-undang bahkan falsafah pancasila. Generasi cerdas generasi yang memiliki revolusi adab yang tinggi agar dapat menegakkan keadilan, mewujudkan kesejahteraan, melindungi kemanusiaan, meninggikan ketuhana, dan mejaga keharmonisa demi kemajuan hidup bangsa Indonesia ke depan.

Ketika Kelompok Tradisionalis Berkuasa


Oleh : Al Azzad 

Akhir-akhir ini sering terjadi sentimen antar kelompok, sehingga yang kuat menekan yang lemah dan yang lemah tentu merasa tidak mendapatkan keadilan. Perbedaan pilihan politik dan pandangan politik menjadi adalah bentuk dari kebhinekaan yang semestinya dapat diterima dan dihargai tanpa harus ada tekanan untuk menjatuhkan, membungkam ataupun menghalangi. Sebuah keniscayaan bagi negeri yang besar dan luas ini memiliki perbedaan, sehingga tak payah untuk melakukan ancaman dan persekusi ataupun yang lainnya. Pemerintahan yang terlalu responsif terhadap kritikan, komentar, nyinyir, cibiran masyarakat dengan perlakuan keras menggunakan aparat akan menimbulkan reaksi tentunya dan kedailan pun tidak ada dapat dirasakan bagi yang bersebrangan. Sebab menjadi penguasa harus siap segalanya pro kontra itu selalu ada, kirtik dan oto kritik pun ada, dan ketika meiliki kekuasaan maka nafas kepentingan kelompok harus ditinggalkan dan harus mulai merangkul sekaligus mengayomi rakyat tanpa pilih-pilih. Karena inti tujuan dari kekuasaan ialah kesejahteraan, keadilan dan kerukunan. 

Hal yang sangat tidak etis ialah ketika kekuasaan itu dijalankan dengan cara-cara klasik layaknya drama kehidupan orang-orang terbelakang. Istana dan kekuasaan menjadi hal yang dianggap terlalu kaku, formal, sistematis, baku, penuh aturan dan sebagainya hingga akhirnya diabaikan begitu saja karena pandangan tradisionalis. Maka istana dan kekuasaan serta pemerintahan dijalankan layaknya orang yang tak mengerti tak paham dan memang tak pernah mau paham terhadap mekanisme dan prosedur atau protokoler yang ada. Sehingga dibuat seenaknya saja sesuai seleras bagaikan kaum tradisionalis yang hanya mengerti tentang kenyamanan tak payah untuk melakukan sesuatu yang banyak aturan karena budaya kerjanya pun bebas tanpa aturan yang berlaku. Cara pandang yang kolot, keras kepala, susah diatur, ngeyelan, cengar cengir, senyam senyum itu ciri khas tradisionalis yang saat ini dilabelkan orang yang ramah lagi santun lagi lemah lembut. Maka tidak ada yang esensial dan substabsial yang dirasakan hanya sebatas lebelitas, konteks dan citra semata. Kekuasaan digunakan untuk kesenangan diatas penderitaan dan segala penjajahan alias imperialisme kepentingan masa kini pun diiyakan dan diterima lebar begitu saja. 

Ketika kelompok tradisionalis berkuasa maka kehancuran sistem akan dirasa sekaligus lemahnya negara menjadi hal buruk dan arogansi kekuasaan semakin memuncak karena besarnya dukungan para loyalis fanatik yang memang telah didoktrin dan dikerahkan. Kelompok tradisionalis agama banyak cara untuk melakukan sesuatu yang tidak ada aturannya dan sering kali justru menabrak aturan yang ada. Antara pemimpinnya dan anggotanya, pendukung dan simpatisannya sama saja lain di muka lain di belakang artinya manis di depan kasar di belakang. Hal-hal semacam ini bukan perilaku dan ciri khas karakter bangsa Indonesia, hanya saja karena berada di atas angin sedang naik daun maupun sedang berada di puncak maka perlakuan pun menyimpang jauh dan keadilan tidak merata. Rasa ingin menang sendiri, paling berkuasa sendiri, paling merasa hebat dan paling berjasa atau paling Indonesia serta pancasilais adalah klaim tunggal sebagai bentuk arogansi kekuasaan di tangan kelompok tradisionalis ini. Selalu mengedepankan sentimen benderang untuk melawan siapa saja yang menentang terhadap apapun yg datangnya dari penguasa pemilik kekuasaan, sebab menjadi benteng dan tameng penguasa kaum tradisionalis. 

Ketidakmampuan untuk menjalankan sistem roda pemerintahan inilah kelemahan kelompok penguasa tradisionalis. Sehingga antara yang dijanjikan dengan yang direalisasikan itu tidak sinkron alias jauh berbeda. Sebab inkonsitensi yang terlalu fleksibel membuat kebijakan pun sesuai selera tergantung situasi yang ingin diciptakan. Namun yang menjadi kekuatan kelompok tradisionalis ketika berkuasa ialah kaki tangannya akan dibantu oleh kaum-kaum intelektual, sebab baginya gampang urusan hanya dikembalikan kepada ahlinya walaupun ia tidak mampu dan ahli mengurusnya. Karena baginya selama yang ahlinya dalam genggamannya dan berada ditangan kekuasaanya maka ketidakmampuanya pun akan tertutupi bahkan tak terlihat dari mata masyarakat bahkan media. Situasi bernegara saat ini memang sangat jauh dari aturan banyak demokrasi dicederai dengan anggapan bahwa keburukan pemimpin masa lalu menjadi argumen untuk menghalalkan segala sesuatu untuk berkuasa saat ini. Padahal semestinya dari masa ke masa demokrasi harus terus berbenah diri dan terus belajar semakin progres bukan justru mengadopsi kesalahan, kegagalan, kejahatan dan keburukan masa kekuasaan kepemimpinan masa lalu. Sebab kelompok tradisionalis itu kelemahannya ialah tingginya dendam batin sehingga susah menerima dengan hati terbuka demi kemajuan bersama. Ketegasan hampir tidak dimiliki sebab dirasa hal itu tidak manusiawi dan tidak santun terhadap manusia, maka yang terjadi ialah lemahnya kepemimpinan baik secara nasional maupun internasional. 

Narasi yang dibangun ketika kelompok tradisionalis berkuasa ialah narasi keberpihakan dan kepentingan kelompok sendiri. Pembenaran dalam perbedaan adalah hak mutak yang tak bisa dikompromikan bagi kelompok tradisionalis apalagi kekuasaan berada ditangan dan pundaknya. Segala sesuatu boleh dilakukan asalkan tidak menggangu kelompok tradisionalis tersebut. Entah itu maju atau mundur, kehancuran atau kejayaan, krisis atau kemajuan atau apapun itu situasi nya baginya aman, enteng, tenang selama tidak mengusik kelompok tradisionalis tersebut. Sebab itu sama saja memberikan ancaman bagi mereka dan segala kekuatan dikerahkan untuk mematikan siapa saja yang resisten dan melakukan perlawan pada mereka. Satu-satunya cara tentu bila kekuasaan itu tidak lagi ditangan dan dipundak mereka lalu mulai dilakukan perbaikan dan disusun ulang sistem berdemokrasi yang sehat dan inklusif. Sebab apa gunanya saling serang antar anak bangsa karena tak mampu menjalankan roda pemerintahan ketika sedang berkuasa. Karena kelompok tradisionalis sangat kental dengan feodalisme dan fasisme, jadi sulit diberikan kesadaran dalam memimpin ketika berkuasa. Kebijaksanaan sangat subyektif bagi kelompok tersebut, maka sangat sulit untuk menerima hal baru, sesuatu yang lain yang dirasakan tak sesuai dengan seleranya. Tentu ini menjadi pelajaran agar tidak lagi terjadi ke depannya demi demokrasi inklusif yang tidak hanya dinikmati segelintir golongan san kelompok tertentu saja serta dapat melindungi seluruh anak bangsa apapun latar belakangnya karena masih dalam satu rumah yakni rumah Indonesia.

Jumat, 03 Agustus 2018

Mengenali Aliran Jaringan Islam


Oleh : Al Azzad 

Arus globalisasi begitu deras dalam mempengaruhi kegiatan politik, ekonomi, agama dan sosial serta budaya di setiap levelnya. Sehingga, banyak yang harus menyesuaikan diri dengan cara mengintegrasikan prinsip dasar dan nilai dalam situasi tersebut. Agama dalam hal ini pun menjadi bagian yang sangat kontriversial sekaligus krusial. Hal tersebut terbukti karena semakin banyaknya jaringan dan sel yang pemikiran tentang Islam. Aliran jaringan Islam konteks kontemporer adalah representasi dari berbagai latar belakang baik dari keormasan, paham ideologi, dan kelompok militan. Agendanya ialah mengembangkan seluas mungkin khazanah pemikiran Islam di tengah arus globalisasi mendunia untuk andil dalam kontestasi global secara internasional. Argumentasi yanh dibangun ialah untuk dapat bersaing sekaligus menjadi partisan dunia di kalangan Islam yang mengikuti kuatnya arus barat dalam mempengaruhi kehidupan global baik dari aspek tadi yakni politik, ekonomi, agama, sosial dan budaya. Langkah dinamis ialah ikut serta dan mengambil peran serta posisi arus global dalam menginterpretasikan setiap problematika dan persoalan. Bila ide besar pembangunan global tersebut tidak dapat diartikulasikan, maka ancaman demi ancaman pun dapat dirasakan sehingga mengalami ketertinggalan dunia. Maka upaya membangun sebuah penafsiran baru melalui agenda yang dibawa dari pintu masuk penelitian dan pengembangan pemikiran Islam versi global. 

Meningkatnya pengaruh jaringan Islam adalah bagian dari keikutsertaan dalam menafsirkan dan menginterpretasikan ayat Al Qur'an dan Al Hadits secara tekstual maupun kontekstual yang dibedah dengan pisau metode keilmuan, studi dan sains global barat. Mulai mengesampingakan metode pendekatan normatif dalam membaca ayat Al Qur'an dan Al Hadits, bahkan meninggalkan pendekatan historis. Yang mulai dibangun dan dikembangkan adalah pendekatan kontemporer, pendekatan humanitarian, pendekatan kosmopolitan, dan pendekatan kemajukan. Dengan tujuan dapat menyimpulkan sebuah hasil temuan terbaru dalam konteks globalisasi sehingga menghapus upaya metode klasik dan konservatif. Dari segi sains keilmuan jaringan ini sangat unggul dan terkemuka sehingga tidak diragukan lagi progresifnya dalam ranah keilmian sains. Akan tetapi yang lebih kontroversial ialah dari segi pemikiran Islam dan studi agama Islam yang dibaca, ditafsirkan dan diinterpretasikan melalui paradigma, perspektif, dogma, sudut pandang global untuk menyimpulkan ayat secara intelektual terhadap kajian Islam global. Sehingga tak jarang selalu berhadapan dengan arus utama dan terjadinya resistensi penafsiran Islam di tengah kehidupan masyarakat dan umat Islam. 

Untuk mengenali aliran jaringan Islam ini pada dasarnya cukup sederhana dan mudah dalam kacamata sosial. Jaringan Islam ini melebelkan nama dibelakangnya yang bisa berafiliasi atau tergabung dari keormasan, paham ideologi dan kelompok bernuansa komunitas FGD. Sehingga sel jaringan Islam semakin banyak dan meluas, itulah kenapa jaringan ini berkembang pesat dari segi ilmu pengetahuan Islam dengan nama-nama yang depannya memakai kalimat Jaringan Islam dan dikuti tambahan belakang yang beragam sesuai dengan latar belakang serta identitas golongan tersebut. Gerakannya sangat produktif dan progresif, terlihat dari banyaknya buku-buku keislaman nuansa global di pasaran, seminar, kajian, forum, lintas studi, dan sebagainya. Pengaruhnya pun cukup besar, sebab posisinya sangat strategis dan elitis berada sebagai orang besar, orang penting yang selalu berada dalam struktural dan pucuk pimpinan. Kehadiran bagaikan Nabi pembawa Risalah baru dalam interpretasi ayat Al Qur'an dan Al Hadits. 
Pembahasannya sangat beragam dari hal yang besar sampai yang kecil seperti radikalisme, terorisme, sekularisme, pluralisme, liberalisme, kapitalisme, anarkisme, komunisme, islamisme, humanisme, dan sebagainya. Pengaruh doktrinnya cukup kuat dalam mempengaruhi pemikiran masyarakat dan umat, sehingga menjadi rujukan dan referensi kekinian untuk memahami Islam global.

Posisi-posisi jaringan Islam ini bila dilihat dari jalurnya yakni pertengahan-kanan ekstrim atau tengah kekanan-kananan atau pertengahan-kirim ekstrim atau tengah kekiri-kirian. Agak sulit membacanya namun jelas dan terang kontibusinya dalam mengendalikan pemahaman dan pemikiran masyarakat khususnya umat muslim. Yang menajdi problem ialah ketika aliran jaringan Islam ini memainkan perannya maka semua nuansa akan bergerak, bahkan terjadilah resistensi dan konfrontasi pemikiran antar sesama jaringan Islam. Sehingga memberikan kegaduhan dalam konteks pemahaman kegamaan yang baku. Hal tersebut karena besarnya pengaruh kuat intelektualitas dan membentuk rasionalitas-logis untuk membaca konteks yang ada. Inti dan ujungnya ialah bergerak pada nilai Islam global yang mengarah pada pluralisasi, humanisasi, dinamisasi, globalisasi, dan sekularisasi. Kelemahannya terletak pada inkonsistensi antara logika atau akal dengan moral atau akhlak dan intuitif atau hati. Kebebasan interpretasi menjadi hak mutlak sehingag multi tafsir adalah sebuah tujuan dalam memahami Islam secara global. 

Hal itulah kenapa banyak jaringan Islam ini pada akhirnya memunculkan banyak istilah-istilah keislaman yang dibentuk melalui studi baik secara ontologis, epistemologis dan aksiologis dari segi filsafatnya. Arogansi keilmuan menjadi kekuatan Individu secara privat dan terbuka bebas ruang dan panggung dalam memaparkan sekaligus mempresenrasikan hasil Pemahaman dan pemikirannya. Tidak akan pernah ada upaya penyaringan dan filterisasi, sebab hanya berkutik di lingkaran jaringan Islam tersebut. Bila pun dibedah dan disanggah hanya sebatas tanggapan revisi yang akhirnya memberikan hasil pada pengakuan hasil temuan yang ada. Itulah pentingnya mengenali aliran jaringan islam, agar tidak terjebak dalam dinamika serta lingkar pemahamannya yang mempengaruhi secara soft doktrin untuk mendapatkan pengakuan, penghormatan dan perestasi setiap paparan yang dituangkan. Sebab aliran ini dapat berkeja pada siapa saja meskipun tak sejalan dan tak seirama karena memang sangat jenius, cerdas dan termasuk dari golongan cendikia serta kaum intelektual namun yang masuk jurang penyesatan pada umat. Karena posisinya sama saja bagikan nabi pembawa risalah sebagai sebutan ekstrim, meskipun dari golongan agamawan yang religius dan agamis. Bila tejadi kebingungan di kalangan umat terhadap istilah Islam saat ini, maka sudah dipastikan aliran jaringan Islam itulah yang memainkan perannya san bertanggung jawab pula mengatasinya bagiakan ilmuwan yang menciptakan virus dan sekaligus menciptakan penawar virusnya karena kendali ada pada yang memiliki istilah pemahaman hasil penafsiran dan interpretasi personal tentunya.

Kamis, 02 Agustus 2018

Umaro Sekaligus Ulama Pemersatu


Oleh : Al Azzad 

Islam di Indonesia telah memperlihatkan keberagaman dalam pemikiran Islam sebagai bentuk penafsiran dan interpretasi terahdap ayat Al Qur'an dan Al Hadits baik secara normatif, historis dan kontemporer. Sehingga waran Keislaman di Indonesia hadir dengan adanya Ormas Islam yang beragam sesuai dengan visi, misi tujuan, azas dan khittah masing--masing sebagai kendaraaan dakwah berorganisasi dan bermassa. Tentu semua memiliki prinsip dan pandangan, yang bila ditarik garis tengahnya atau benang merahnya semua akan mengacu pada Islam Rahmatan Lil Alamin. Akan tetapi agenda dakwahnya baik secara politik, sosial, budaya, dan sebagainya teegantung pada pedoman AD dan ART organisasi tersebut. Kelahiran Ormas Islam berbeda-beda waktu, tempat, tokoh, dinamika, dan situasinya. Ada yang sebelum bangsa Indonesia lahir, ada yang di masa Hindia belanda, ada yang bahkan jauh sebelum itu, ada yang di masa rezim orde lama, ada yang di masa rezim orde baru dan bahkan ada yang di masa reformasi maupun di era neo reformasi milenial. Semua tujuannya ialah berdakwah untuk membumikan Islam di negeri ini dengan berbagai macam alat maupun medianya.

Hal yang menarik ialah di dalam Ormas Islam itu melahirkan adanya Ulama sebagai panutan, penasehat, pimpinan, pengarah, penggerak, prmotor dan sebagainya yang intinya ialah sosok agamis, religius dan spritualis dalam membawa kendaraan dakwah bernuansa keormasan. Sehingga perbedaan pendapat, pandangan, penafsiran, dan putusan adalah keniscayaan sekaligus manifestasi keumatan dalam rangka menajalankan dakwah islamiyyah. Akan tetapi semakin luasnya perbedaan juga memberikan implikasi krusial di tengah umat, jamaah dan masyarakat. Sebab melahirkan kebingungan yang besar terhadap banyaknya beredar produk pemikiran keislaman yang dihadirkan oleh ulama-ulama tersebut dalam memutuskan suatu perkara. Sampai pada arah impact yang luar biasa yakni adanya pembenaran mutlak, pemaksaan kehendak, dan penafsiran tunggal. Hal itu pun dilakukan sesuai dengan kemampuan keormasan tersebut, ada yang menggunakan alat kekuasaan yang berafiliasi pada kekuasaan baik itu pemerintahan, aparat dan instrumen lain. Adapula dengan kekuatan historis dengan besarnya kontrobusi yang dimiliki. Adapula dengan adanya jaringan referensi rujukan pada wilayah-wilayah tertentu. Semua dalam rangka mencari kebenaran diatas perbedaan yang begitu luas. 

Dalam hal ini ialah tentang kekuasaan, dimana umaro sekaligus ulama pemersatu masih sulit diterima bahkan dideskreditkan sebagai pelemaham warna dan wajah baru. Konteks kontemporer sangat jelas bahwa di dalam ormas islam itu memunculkan adanya fanatisme baik pada organisasinya, ulamanya, pimpinannya, pengurusnya dan sebagainya. Maka dari itu masih kental adanya Ulama Hizbiyyah atau Ulama Asobiyyah yang hanya pada golongan dan kelompok tertentu. Meskipun ada yang mengarah pada pendekatan lintas iman, pendekatan inklusif, pendekatan ekslusif bahkan pendekatan progresif serta lainnya. Ini dapat terlihat dan dikaitkan dengan kekuasaan, dimana Ulama Hizbiyyah atau Asobiyyah inilah yang selalu tampak dipermukaan, maka terjadilah diskriminatif antar umat sehingga terpecah belah yang satu merasa paling besar dan kuat sehingga menegasikan yang lain. Padahal kultur adanya Ulama Hizbiyyah atau Asobiyah ini sudah tidak memiliki relevansi di era milenial, cendrung sangat konservatif dan stagnan dalam persatuan. Kekusaan pun masih sangat kental dengan hal ini yakni mengangkat Ulama Hizbiyyah atau Asobiyah. Terlihat di bangsa ini masih adanya polarisasi sekaligus kerenggangan antar internal umat Islam tentunya akibat dari keagungkannya kultur Ulama Hizbiyyah atau Ulama Asobiyah tersebut. 

Interpretasi keberagaman dalam Islam saat ini semestinya dilihat dari warna baru tentang adanya sebuah kesatuan yang lebih realitis tidak hanya sebatas pemikiran, diskursus, abstrak, keilmuaan melainkan harus adanya integrasi dan konektivitas ditataran praktis, realistis, yang secara ril dan lebih nyata. Kultur baru dengan menghadirkan Ulama Wathoniyyah atau Ulama Wasathiyyah adalah hal yang lebih jauh Ihsan ketimbang sebelumnya. Tetap berada pada kendaraan keormasannya namun orientasinya lebih realistis dan praktis terhadap nilai ukhuwah. Sosok dan figur Ulama Wathoniyyah atau Wastahiyyah orientasi pada ukhuwah itu jauh lebih besar kemuliaan dan kehormatannya. Sehingga kekuasaan dihadirkan pada Umaro yang sekaligus Ulama pemersatu bukan Ulama yang menjunjung tinggi golongan dan kelompok sendiri atas pembenaran melalui campur tangan kekuasaan. Lebih baik secara gamblang dan zahir menjadi Umaro yanag sekaligus Ulama atau Ulama yang sekaligus Umaro agar dapat menjadi pemersatu umat diantara keberagaman keormasan Islam. Situasi saat ini menginginkan sesuatu dalam kerangkan Islam yang bersatu dari berbagai macam keberagaman. Sebab, umat ingin kerukunan antar sesama dan mendapatkan pencerahan dari para ulama yang ikhlas dan selalu bersahaja pasa umat serta tidak memberikan kebingungan. Tentu hal ini mesti dicontohkan dari atas atau dari Ulamanya itu sendiri agar umat pun melihat dan melakukannya karena adanya keteladanan.

Konteks Indonesia saat ini menginginkan dan mengharapakan nuansa baru dengan adanya umaro sekaligus ulama pemersatu umat. Di tengah hiruk pikuk negeri, probelemika bangsa dan persoalan politik yang arahnya sangat jauh dari nilai Islam meskipun apara aktor adalah mayoritas dari umat muslim namun arah kiblat pemahamanya sangat tidak Islamis. Sampai pada narasi intelektualitas pun adalah arah kemajuan barat yang semestinya itu juga ada pada arah timur maupun timur tengah. Pada akhirnya tujuannya yang diharapkan disetiap kekuasaan ialah umaro yang peduli umat dan sekaligus ulama yang peduli negara. Sehingga sinergitas dan konektivitas terjalin secara kolektif untuk membangun negeri, memajukan umat dan mencerahkan kehidupan bangsa dalam mengahadapi tantangan global ke depannya.

Selasa, 31 Juli 2018

Meragukan Habib Menjadi Pemimpin


Oleh : Al Azzad 

Banyak suara-suara rakyat berseliuran ataupun berpendapat tentang pilihannya baik calon presiden dan calon wakil presiden. Keduanya sama saja, sebab sama-sama menjadi pemimpin bangsa Indonesia yang akan menjadi RI 1 dan RI 2 untuk membangun negeri Indonesia yang tercinta ini. Hal yang menarik dan sangat berbeda ialah ketika hadirnya seorang habib yang direkomendasikan sebagaian jumhur Ulama untuk dijadikan sebagai pemimpin bangsa nantinya. Ini merupakan sebuah sejarah baru dan harapan baru bagi bangsa Indonesia ini yang masih terjadinya polarisasi dan ketegangan di tengah masyarakat. Terbukti bawah pemimpin saat ini yang meskipun RI 2 saat ini dianggap sebagai orang pemersatu pun masih lemah, bahkan sekelas tokoh nasional lain, para kiyai dan ustadz tak ada yang sanggup menyelesaikan persoalan di tengah masyarakat terhadap polarisasi dan perpecahan sehingga terus memunculkan sentimen dan konflik keoentingan. Sehingga warna kebangsaan hari ini terasa bagaikan awan gelap yang tak kunjung terang benderang karena mentupi matahai sebagai pencerah alam semesta. 

Perlu disadari bahwa bila hadirnya seorang habib yang akan memimpin bangsa menjadi harapan dan doa besar untuk kembali mencerahkan kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama. Sebab para habaib itu sangat kuat solidaritasnya, dikarenakan memang kemuliaan terhasap Nasab dan Sanad ilmu yang hadir dari kalangan Agamis berlatar belakang santri dari pondok pesantren. Para habaib itu sistemnya ialah silent majority, silet supporrt dan silet voice meskipun tidak terlalu terlihat oleh media dan terdengar vokalnya untuk kebangsaan akan tetapi mereka solid antar satu dengan yang lainnya untuk mengantarkan satu nasab mereka yang memang garisnya sampai pada Rasul Saw untuk memimpin bangsa ini. Habaib itu dicintai oleh umat, dan mampu memberikan pencerahan serta kedamaian kepada umat terhadap lintas agama pun saling menghormati serta rukun. Kultur habaib itu ialah majlis Rasulullah baik itu maulidan, sholawatan, istighosah, haulan dan lain sebagianya yang pamornya dan tingkat maqomnya lebih tinggi dibangdingkan ulama lain. Inilah yang menjadi kekuatan spritual bangsa yang sekaligus memberikan keberkahan, kemakmuran, kedamaian, keadilan, kesejahteraan dan keharmonisan bangsa. Sudah saatnya memang Indonesia dipimpin oleh garis keturunan Rasul Saw yang jelas, valid, dan shohih sanad, nasab dan jalurnya.

Meragukan Habib menjadi pemimpin Indonesia yang akan datang adalah kesalahan besar tentunya sekaligus menghilangkan kesempatan emas untuk menjadi bangsa yang harkat, martabat dan derajatnya ditinggikan. Sebab dengan adanya sosok Habib yang dicalonkan walau sebagai calon wakil presiden itu adalah sejarah besar bangsa Indonesia yang selama ini merupakan negara mayoritas Islam tapi peradaban, moralitas, kultur mulai bergeser diwarnai kebarat-baratan sehingga hilangnya dan pudarnya kultur ketimurannya. Habaib itu mewakili seluruh umat Islam, mewakili lintas agama, mewakili antar ormas Islam dan tentunya merangkul saudara sesama muslim dan mengayomi umat bergama lintas agama. Sebab Habib itu obat pencerah umat manusia yang mampu memimpin bangsa dengan baik. Selama ini Habaib hanya digambarkan sebagai pemimpin dan imam Sholawat, Imam Zikir, Imam Maulidan dan sebagainya namun belun menjadi Imam Bangsa ataupun pemimpin bangsa yang secara langsung menggunakan kekuasaan dalam hal politik secara amanah dan istiqomah. Maka perlu adanya kesempatan yang baik sekaligus harapan yang besar bila adanya kehadiran seorang Habib yang memimpin negeri ini, tidak maslalah apakah menjadi RI 1 atau RI 2 karena yang jelas masih memiliki kekuasaan untuk membangun Indonesia yang cerah, megah, dan bersejarah. Sehingga tak perlu meragukan habib memimpin bangsa, sebab itu sama halnya meragukan Rasul Saw karena Nabi Muhammad adalah pemimpin seluruh umat manusia secara Rahmatan Lil Alamin disegani, dihormati, dicintai dan disayangi oleh seluruh kelangan, kelompok umat manusia. 

Sinisme terhadap kehadiran adanya Habib yang memimpin negeri mencerminkan bahwa bangsa ini masih rusak akhlak, rusak moral, rusak akal dan tentu banyak dipengaruhi oelh paham-paham pemikiran yang bertentangan dengan Islam mulai dari Liberalisme, Sekularisme, Kapitalisme, Komunisme, Otoritarianisme, Monarkisme, Fasisme dan lain sebagianya. Sebab kehadirannya adalah angin segar untuk bangsa ini yang akan menjawab tantangan sekaligus merupakan Rahmat Allah Swt terhadap negeri Indonesia yang dihadirkan sekaligus diberikan adanya Habib untuk memimpin negeri Indonesia yang besar dan luas ini. Ini menjadi ujian sekaligus menjadi peehatian, dan Allah akan melihat bagaiman bansa Indonesia menghadirkan dalam memilih pemimpinnya. Maka wajar saja bila sumber daya alam melimpah banyak bertumpah ruah tapi tidak berkah dan tak mampu dikelola sendiri akibat lemahnya iman dan keyakinan bangsa ini terhadap kekuatan spritualitas melainkan lebih mengimani kekuatan finansial, kekuatan kapitalisme, kekuatan barat, dan kekuatan kekuasaan ditangan yang salah. Habib ialah termasuk Ulama besar yang tersebar di seluruh dunia khususnya di Indonesia kehadirannya semakin banyak, menandakan bahwa Indonesia masih diselematkan oleh Allah Swt dengan kehadiran para Habaib yang berjuang di ranah politik dalam merebut kekuasaan secara konstitusional, secara akhlak, berkeadaband dan moralitas yang tinggi. Sehingga memberikan kedamaian, kesejukan dan keharmonisan. Sebab ciri dan watak Hababib itu mempersatukan seluruh golongan, merangkul umat manusia, melindungi alam semesta dan mencerahkan segala kegelapan. Karena Indonesia akan menjadi negeri berkeadaban bila habib diberikan kesempatan memimpin Indonesia ke depan yang lebih baik. 

Hal yang mengherankan ialah bila adanya Habib yang tidak populer, viral, terkenal dan tesorot media dianggap tidak dapat dipilih oleh generasi milenial, generasi pemula bahkan lintas agama. Padahal jika berpikir lebih dalam dan cermat semua anggaoan itu dapat ditepis, sebab Habib yang berjuang untuk memimpin bangsa itu adalah representasi ulama, umat dan umaro. Lihatlah bagaimana para politisi untuk medulang suara bila adanya pilkada, pileg dan pilpres ramai-ramai mendatangi pondok pesantren, kiyai, pimipinan ormas bahkan habaib. Lantas masih meragukan bila ada Habib yang akan memimpin negeri itu adalah kesalahan fatal dalam menafsirkankanya. Sebab dintara kategorisasi Ulama itu semuanya bahwa kalangan Habaiblah yang paling sisoroti dan dicintai seluruh umat manusia. Sebab Habib tidak hanya dalam urusan pendidikan Agama, pesantren, sholawat, maulidan, haul, spritual, tarekat dan sebagainya. Melainkan perwakilan Habaib pun berhak mendapatkan kesempatan menjadi pemimpin Bangsa yang mencerahkan dan memajukan umat manusia. Kekuatan spritualitas itu yang akan mengangkat Habib menjadi pemimpin bangsa, akan mulai dikenal oleh seluruh umat manusia, akan menjadi sejarah besar bangsa Indonesia, akan diviralkan secara massif dengan kekuatan spritual doa, akan menjadi penyeimbang kehidupan berbangsa, akan membawa keberkahan hidup, akan mendinginkan suasan kebatinan yang panas, akan mencerahkan segala kegelapan, akan membawa kebrkahan negeri yang subur, akan menjadi kiblat dunia abad masa kini, akan menjadi sorotan dunia, akan menjadi catatan dunia internasional, akan menjadi keagungan hidup berbangsa, akan terciptanya rahmah kemanusiaan, akan terbangunnya amanah kepemimpinan, akan mengankat marwah bangsa Indonesia, akan disegani seluruh asing, akan dipersatukannya seluruh umat manusia. Sehingga tak ada lagi alasan meragukan Habib menjadi pemimpin, karena Habib dicintai oleh siapapun dari generasi tua, muda, remaja, anak dan milenial tinggal perkenalkan saja. Sebab Habib bukan manusia pencitraan dalam memimpin melainkan manusia ikhkas penuh dengan kekuatan spritual melebihi goLongan Ulama lainnya. Semoga Allah Swt memberkahi negeri ini semakin aman, maju, subur, makmur, jaya, mandiri, independen dan berkah untuk semua.

Sabtu, 28 Juli 2018

Pentingnya Kekuasaan Untuk Kemaslahatan


Oleh : Al Azzad 

Sebagian masyarakat telah muncul sikap apatis dan skeptis terhadap urusan-urusan kekuasaan yang dalam hal ini adalah aspek politik terkhusus pada politik praktis. Sebagian menilai bahwa urusan politik praktis itu hanyalah sebatas persoalan biasa yang tidak berpengaruh pada kehidupannya secara pragmatis. Sebagian lain menilai bahwa hal itu hanyalah sementara yang tidak kekal abadi jadi tak payah memikirkan hal tersebut. Di sisi lain ada yang merasa hanya karena politik praktis ini dapat memecah belah, membuat gaduh dan melemahkan kerukunan. Dan masih banyak sebagain lainnya yang bermacam-macam memahami dan menilai politik apalagi dalam politik praktis. Ada yang karena peduli, ada yang karena tidak mau tahu, ada yang karena paham, ada pula yang tidak paham sama sekali, ada yang berkepentingan dan ada pula yang mencari celah-celah dalam problematika yang terjadi. 

Disadari atau tidak, bahwa kekuasaan itu sangat lah penting sekali. Meskipun ada yang merasa bahwa tidak berpengaruh pada kehidupannya, tidak ada efeknya atau apapun alasannya. Sebab membaca politik itu haruslah luas secara makro dan nasional agar konektivitas berpikir serta memahaminya bisa masuk sekaligus sampai pada akal maupun logika. Bahwa pentingnya politik praktis itu dikarenakan beberapa faktor yang setidaknya sebagai pemahaman dasar yang seharusnya dapat diketahui dan dipahami. Kekuasaan itu berhak untuk membuat dan menerapkan yang namanya Kebijakan. Dibalik kebijakan itulah nantinya akan berdampak apakah pro rakyat atau kontra rokyat, apakah kebijakan yang maslahat atau mafsadat, apakah berimplikasi secara nasional dan menyeluruh ataukah justru hanya berimplikasi pada kelompok tertentu, ormas tertentu atau golongan tertentu. Setiap kebijakan itu selalu ada agenda, kepentingan, perencanaan, visi, misi, program, dan tujuannya. Bila yang berkuasa agendanya tidak berorientasi kepada keumatan dalam persatuan, maka dipastikan tidak ada ksejehateraan yang merata paling hanya pada golongan dan kelompok tertentu saja. Sebab aktor kebijakan publik itu ialah para pemimpin publik dan pejabat publik baik itu tingkat kota, daerah, propinsi dan negara. 

Pentingnya kekuasaan demi kemaslahatan adalah upaya dan misi untuk menempuh keadilan serta kesejahteraan umat secara merata melalui jalur konstitusional, sah, legal dan dapat dipertanggungjawabkan. Banyak cara untuk mendapatkan kekuasaan yang berorientasi pada keumatan dan kemaslahan, tentunya dengan jalan-jalan yang sesuai dengan syariat Islam maupun nilai-nilai ajaran Islam. Lantas hubungan politik praktis dengan kekuasaan dimankah letaknya, tentu letaknya ada pada kebijakan yang dikampanyekan oleh para calon pemimpin atau pejabat publik melalui visi, misi dan programnya. Sebab segala programnya akan diatur sekaligus dilindungi oleh payung hukuk yang mengikat karena telah disusun serta mendapatkan persetujuan oleh para dewan wakil rakyat. Bila tidak peduli terhadap politik praktis, sedangkan untuk mendapatkan pemimpin itu dari mekanisme politik praktis, dan sedangkan nantinya kebijakan akan berpihak serta keberpihakan pada umat itu nantinya ada ditangan para pemimpin yang terpilih sebagai penguasa yang diamanatkan dan dimandatkan oleh rakyat. Itulah kenapa pentingnya kekuasaan untuk keumatan, agar umat mendapatkan haknya, manfaatnya, dan keadilan serta kesejahteraannya tanpa dibatasi pada golongan maupun kelompok tertentu. 

Sebab Kebijakan ada di tangan para pemimpin yang menjalankan program kepemimpinan dan kekuasaanya, dan kebijakan itu akan menggunakan anggaran negara untuk diimplementasikan. Maka, ketika nantinya produk kebijakan ataupun produk program dari seorang pemimpin ataupun pejabat publik tidak berimplikasi, tersalurkan, dan terasa oleh umat maka itulah konsekuensi yang akan diterima. Sebab banyak modus dan cara serta agenda kebijakan itu hanya berpihak sekaligus  terdistribusi pada golongan kelas menengah dan atas bahkan pada golongan maupun kelompok tertentu saja. Inilah yang harus dipahami, maka tidak jarang pula akhirnya kebijakan itu hanya bisa bersifat diskriminatif, elitis, partikulatif, destruktif dan tidak keberpihakan pada umat. Umat harus sadar terhadap pemimpin yang dipilihnya serta sadar betul apa saja agenda kebijakan yang ingin digunakannya, dicapainya, dibangunnya sekaligus dilakukannya. Jangan sampai mengeksploitasi umat muslim untuk kepentingan individu dan kelompok dengan bungkus kebijakan secara legitimate dan kekuasaan terhadap kebijakannya. Hal ini adalah keniscayaan bila umat Islam ssbagai mayoritaslah yang semestinya dan seharusnya banyak mendapatkan manfaat dari kebijakan yang tersalurkan melalui anggaran negara maupun daerah untuk membangun wilayahnya demi mensejahterkan rakyat serta memberikan keadilan hidup dan mengankat harkat marabat, derajat kaum muslim karena amanahnya seorang pemimpin yang kebijakannya sangat berpihak sekaligus keberpihakannya besar terhadap umat. 

Semua itu karena aspek politik praktis, sebab disanalah kontestasi demokrasi dalam merebut kursi kepemimpinan yang sah. Di sanalah nantinya kebijakan itu hadir dan dapat diterapkan pada masyarakat. Bila para pemimpin, pejabat, kepala daerah dan negara adalah orang-orang yang tidak memiliki agenda kebihakan orienrasi untuk umat, maka sampai kiamat pun umat tak akan sejahtera dan mendapatkan keadilan nantinya. Sebab Kebijakan hanya diskriminatif hanya untuk kepentingan golongan dan kelompok tertentu saja. Itulah kenapa pentingnya kekuasaan untuk keumatan itu harus ada untuk direbut kembali bila jatuh ditangan yang tidak amanah, kemudian diserahkan pada yang amanah berpihak pada umat secara keseluruhan. Tentu dengan cara dan jalan yang sesuai aturan undang-undang, konstitusional dan sesuai koridor bahkan syariat. Kemajuan umat, kemajuan bangsa dan kemajuan negara adalah karena hadirnya kekuasaan yang amanah dengan menghadirkan kebijakan yang keberpihakannya tinggi pro rakyat, pro umat demi kemajuan, kemakmuran dan keadilan. Tidak ada alasan lagi bahwa politik praktis tidak penting, tidak berfaedah, tidak krusial atau apapun alasannya, sebab disanalah nantinya kebijakan hadir untuk membangun suatu bangsa. Bila berada ditangan yang salah maka bersiaplah menerima Kebijakan yang tidak berpihak sehingga tidak bisa dirasakan dan dinikmati secara umum. Namun bila berada ditangan yang amanah, maka kebijakan itu akan bermanfaat dan maslahat sehingga dapat dirasakan, dinikmati dan didapatkan oleh umat tentunya. Harapannya tentu selalu menghadirkan pemimpin yang memiliki agendan kebijakan umat secara adil, merata, menyeluruh dan maslahat.

Kamis, 26 Juli 2018

Perjuangan Merebut Kursi Kekuasaan


Oleh : Al Azzad 

Partai politik adalah kendaraan dalam berdemokrasi untuk menjadi pemimpin dan pejabat publik yang masuk dalam pemilihan kepala daerah, legislatif dan presiden. Dengan begitu mekanisme demokrasi dapat berjalan sesuai sengan aturan yang berlaku untuk menjalankannya. Partai politik menyiapkan kader sebagai agen yang mengelola para calon pemimpin publik sesuai dengan Idealisme dan ideologi partai-partai yang ada sesuai latar belakang masing-masing partai. Tentu dalam dinamika partai politik selalu ditemukan kendala-kendala dan kendala tersebut bisa menjadi catatan penting bagi partai politik bila nantinya kadernya atau pemimpin rekrutannya bernuaikan berbagai macam masalah yang keluar dari koridor prinsipnya. Kendalan tersebut sangat beragam mulai dari tindakan kirimal korupsi, kolusi, nepotisme, gratifikasi, dan sebagainya yang sangat pribadi namun mempengaruhi partai politiknya. Akan tetapi, partai politik pun banyak yang menghasilkan kader dan pemimpin rekrutan yang berkualitas dan berintegritas untuk negeri ini. 

Hanya saja yang menjadi masalah selanjutnya ialah dalam pesta demokrasi ada aturan yang terkadang juatru dapat menyandera partai itu sendiri, bahkan juga bisa menjadikan partai tersebut kehilangan posisinya. Belum lagi biaya logistik yang sangat mahal disebabkan NKRI yang sangat luas dan besar ini. Sehingga untuk menghidupkan mesin partai politik membutuhkan operasional yang sangat signifikan bila menginginkan hasil yang maksimal dalam kontestasi berdemokrasi. Partai politik bila tanpa adanya sistem lokomotif politik sebagai bentuk kekuatan dalam gerakan mencapai dukungan suara dan sayap-sayap relawan maupun simpatisan yang militansinya tinggi, dapat dipastikan partai tersebut akan kalah justru sangat lemah bahkan sulit melakukan manuver. Sehingga cendrung lebih mengikuti koalisi yang ada yang telah dibentuk oleh partai yang telah mapan dan besar pengaruh perjuangannya. Itulah kenapa dalam setiap kali momentum partai berkoalisi menghitungkan segalanya secara kompleksitas dari akar sampai pusat dan pucuk tertinggi. 

Perjuangan merebut kursi kekuasaan seyogoyanya tidak semudah membalikkan telapak tangan ataupun semudah pengamatan, penilaian, komentar dan analisis para eks partai atau rakyat yang melihat.  Sebab dalam perjuangan merebut kursi kekuasaan tersebut dibutuhkan modal politik, lokomotif politik, logistik politik, militansi politik, deklarasi politik, dan atribusi politik lainnya. Perjuangan itu tentu dimulai dari pondasi serta bangunan partai politik yang bertujuan untuk mencapai kekuasaan secara konstitusional. Jatuh bangun, menang kalah, asam manis dan segalanya adalah menu utama problematika yang dirasakan oleh partai-partai politik tentunya. Yang jelas perjalanan politik itu didasari dengan agenda politiknya masing-masing dalam merebut kursi kekuasaan melalui kontestasi demokrasi. Berbagai macam metode dapat dilakukan selama tidak melanggar aturan dengan memunculkan isu-isu politik yang ada sebagai bentuk dinamika dan dialektika politik tentunya. 

Sebab bila nanti perjuangan dalam merebut kursi kekuasaan diraih oleh partai pemenang, maka berhak untuk mengeluarkan berbagai macam kebijakan sebagai bentuk misi politik dalam merekonstruksi pemerintahan dalam hal ini adalah negara. Agenda partai politik dijabarkan menjadi sebuah kebijakan yang sifatnya bisa regulatif, distributif, alternatif, akomodatif, konstruktif dan lain sebagainya sebagai bentuk cara mengelola kekuasaan dalam bernegara. Tentu semua harus sesuai amanat undang-undang yang telah dirumuskan oleh dewan wakil rakyat sebagai bentuk dari pengejawantahan dari pancasila, uud 1945, uud sampai level bawahnya. Partai pemenang yang merebut kursi kekuasaan baik diparlemen dan di presiden menjadi hak sepenuhnya dalam menjalankan roda pemerintahan dengan agenda kebijakan-kebijakan yang telah disusun melalui kampanye yang telah dilalui dari visi, misi dan program-programnya yang ditawarkan kepada rakyat melihat kondisi perkambangan pemerintahan dari satu kekuasaan terdahulu menuju ke arah kekuasaan yang baru. Estafet kekuasaan merupakan ritual demokrasi bila terjadinya pergantian kemenangan, namun bila masih bertahan dalam memenangkan maka tinggal meneruskan dan melanjutkan agenda selanjutnya saja yang memang dibatasi dalam 2 periode kekuasaannya. 

Tentu dalam kontestasi demokrasi merebut kursi kekuasaan haruslah dengan cara-cara yang bijaksana, rakyat perlu diedukasi terhadap pendidikan politik yang benar dan jangan sampai justru rakyat kecil hanya dieskploitasi semata dalam mempengaruhi suara. Rakyat sama-sama diajak maju dan membangun negera dengan partisipasi yang tinggi sekaligus diberikan jaminan atas janji kampanye sebagai program yang pro rakyat. Jangan sampai rakyat dibodohi secara sistematis secara politik dikarenakan tingkat pengetahuan dan kesadaran serta intelektulitas yabg rendah menjadi alat penjarahan secara politik. Sebagi pemimpin dan pejabat publik semestinya harus bersikap penuh kenegarawanan dengan etika politik secara normatif, jangan karena merasa dukungan besar menjadikan sikap superior, fleksibel dan agresif yang diperlihatkan sekaligus ditonjolkan seolah negara merasa dipundak sendiri. Sebab kekuasaan dan jabatan ada masanya tidak selamanya dan sebagai manusia yang menjalankan sila pertama yakni Ketuhanan Yang Maha Esa, maka semua itu adalah amanah yang semuanya akan dimintai pertanggung jawabannya kelak baik sekecil atau sebesar apapun kebijakan, perbuatan, program, agenda dan sebagainya yang bermanfaat atau maslahat atau justru sebaliknya menjadi tanggung jawab besar tentunya. Maka kesadaran sebagai moralitas kebangsaan dalam politik mesti harus dijunjung tinggi, agar setiap kepemimpinan yang dijalani adalah tujuan mulia dan tujuan yang berkemajuan untuk kedaulatan bangsa Indonesia.

Tenggelamnya Gaya Politik Pencitraan

Oleh : Al Azzad  Ada masa dimana dulu demokrasi sempat heboh dengan model politik pencitraan yang dikemas apik sedemikian rupa. Dit...