Jumat, 13 Juli 2018

Kombinasi Umaro Dengan Ulama


Oleh : Al Azzad 

Untuk mendapatakan keberkahan dan kemajuan dalam suatu bangsa perlu adanya kerjasama yang baik. Negeri yang begitu luas dengan berbagai macam perbedaan dan kemajukan menjadi nilai tersendiri untuk dapat mewarnai bangsa ini dengan penuh ketulusan. Tidaklah mudah untuk menyelesaikan segala masalah, namun tidak pula susah untuk mendapatkan solusi hidup berbangsa dan berbudaya. Aspek politik khususnya yang mengatur segala tatanan kehidupan sebagai bentuk kekuasaan dalam mengatur pemerintahan dan juga masyarakat ataupun rakyat. Sehingga semua harus mendapatkan haknya sekaligus kewajibannya dapat terlaksana dengan baik serta mengayomi seluruh kalangan ataupun elemen. Itulah pentingnya hidup berbangsa, bernegara dan beragama agar semua berada pada jalur koridor yang benar sesuai aturan, norma, hukum, undang-undang, etika, moral dan budaya. 

Di dalam demokrasi ada siklus pergantian pemimpin dan kekuasaan maupun kondisi dalam memilih, mengangakat dan mengakui pemimpin untuk menjalankan pemerintahan yang sah melalui legitimasi hukum berdasarkan kedaulatan rakyat. Sehingga pemimpin pemerintahan menjalankan amanat sesuai undang-undang dan konstitusi sehingga tidak menyalahgunakan kekuasaan untuk pribadi atau kelompok atau justru secara secara bersama melalui jakan legalitas untuk menyelewengkan kekuasaan yang mencederai rakyat berserta demokrasi tentunya. Karena demokrasi akan tumbuh maju dan berkembang sekaligus menjadi sebuah peradaban yang maslahat dan manfaat tergantung pada kualitas pemimpin, kualitas rakyat dan kualitas ulama. Semua tidak dapat dipisahkan karena saling mendukung, membahu, dan menguatkan segala sumber daya yang ada. 

Banyak hal yang terlupakan bahwa peran ulama juga sangat penting, baik yang berada di luar urusan politik maupun yang terintegrasi dengan politik bahkan yang sekaligus masuk di dalam dunia politik. Demokrasi yang juga sekaligus mewadahi berbagai macam paham dapat memberikan tekanan dan ancaman bagi kekuatan Islam yang ditopang oleh para Ulama yang ikhlas. Ulama pun tidak harus alergi dengan paham-paham tersebut, sebab itu juga merupakan ladang dakwah untuk terus mengakkan Agama Allah yakni Islam Rahmatan Lil Alamin termasuk kepada berbagai macam paham yang telah ada di negeri ini. Tinggal peran Umaro dan Ulama inilah yang harus saling sinergi, berintegrasi, kombinasi dan berjuang secara kolektif demi mewujudkan kehidupan yang adil dan sejahtera. Dengan begitu tidak menjadi bagian Umaro atau Ulama yang menyimpang, yang keluar dari jalur agama, yang hanya mementingkan pribadi maupun kelompok tertentu sehingga diskriminatif sekaligus yang membawa suasana terpecah belah antar sesama umat hanya karena kepentingan sesaat. Harus menurunkan segala egoisme, arogansi, superior, otoritasi, dan hegemoni maupun dominasi yang bersifat partikulatif serta diskriminatif. 

Kombinasi Umaro dengan Ulama merupakan solusi sekaligus jalan terbaik yang harus menjadi budaya kebangsaan agar tetap bermarwah, bermartabat dan berkemajuan. Sebab untuk menghadirkan kepemimpinan kebangsaan yang totalitas berkarakter harus dengan adanya kombinasi yang saling membangun, mengayomi, mendukung, mengawasi, menasehati, mengevaluasi dan menginisiasi ke arah yang terus diperbaiki dari waktu ke waktu. Dengan demikian rumah bangsa dapat dirawat, diatur dan dikelola sesuai dengan koridor kebangsaan yang berlandaskan ketuhanan demi keadilan dan kesejahteraan. Negeri ini tidak hanya perlu maju dan berkembang hanya karena urusan orientasi keduniaan semata, melainkan harus dikombinasikan dan diintegrasikan dengan keakhiratan yang membawa keberkahan dalam kekekuasaan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Maka upaya membangun budaya kombinasi umaro dan ulama adalah merupakan prinsip dasar fundamental yang mesti ditegakkan di negeri agar tetap mendapatkan ridho serta berkah untuk semesta alam.

Kamis, 12 Juli 2018

Dakwah Berkemajuan Yang Mencerahkan

Oleh : Al Azzad 

Situasi kebangsaan saat ini sedang tidak sehat lagi menyehatkan. Hal ini dikarenakan antar kelompok baik kiri dan kanan terus saling berbantahan dari atas pemuka sampai bawah di akar rumput. Belum lagi antar internal Agama yang kian hari sibuk diskusi atau debat pemikiran di dalam agamanya masing-masing dengan situasionalnya melihat segala perkembangan dan dinamikanya. Tak jarang yang menjadi bulan-bulanan serta menjadi arah kebingungan bagi umat serta jamaah yang hanya senang mengikuti tanpa lagi harus banyak berpikir sekaligus mengkaji. Akhirnya dampaknya pun sangat besar bisa tersesatkan, bisa pula tergoyahkan dan bahkan menjadi kehilangan pedoman hidup diakibatkan para pemuka agama baik yang tua dan muda selalu menghadirkan pemikiran Islam dan islam pemikiran yang begitu menekankan nalar intelektual pula untuk memahaminya dengan logika yang sehat. Sehingga metode untuk sebuah ajakan pun mesti harus dirubah lagi, apalagi bila sulitnya melakukan sebuah seruan kebaikan, ajakan kebenaran, dan panggilan keagamaan yang telah dicampuri oleh para pemuka Agama intelektual yang terus bedebat dalam urusan pemikiran.

Hal yang paling mendasar adalah umat menjadi gaduh, galau, bingung, pusing, sehingga merugikan Islam itu sendiri. Akhirnya jumlah populasinya menurun dan tingkat perpindahan agama karena berbagai macam faktornya pun meningkat. Kualitas umat yang belum sepenuhnya terkendalikan justru malah lemah dari segi jumlah akibat degradasi moral yang mulai masuk dalan aspek keagamaan. Akibat dari semua kelompok muslim dari berbagai kalangan dapat dengan mudahnya bersuara secara vokal dengan media yang mudah bibuat, diakses, diproduksi dan didistribusikan melalui instrumen media informasi yang semakin canggih. Sehingga para Da'I, Ustadz, Kiyai, Muballigh, Habib dan pemuka Agama lainnya yang memiliki semangat menjaga persatuan, persaudaraan dan perlindingan terhadap umat mulai terkalahkan sekaligus tergeserkan oleh kelompok yang sama yang lebih kuat pengaruhnya namun lebih menekankan pada kontestasi dakwah terhadap Islam dan Pemikiran Islam. 

Untuk merawat persaudaraan sesama muslim tentu tidaklah mudah, disamping juga merawat kebangsaan sebagai rumah besar dalam mencintai tanah airnya. Sering kali kemajuan dalam Agama terhambat hanya karena situasi yang dibangun ialah selalu dalam perdebatan pemikiran, kontestasi dakwah, diskriminasi golongan, dan narasi keislaman yang sangat beragam. Akhirnya Agama tak sampai pada tataran implementasi, aplikasi, dan realisasi yang diterapkan, diamalkan sekaligus dikembangkan secara nyata demi kepentingan umat secara kemaslahatan. Selalu saja terjebak pada diskursus yang menjebak pada fenomena dikotomi sejarah, politik dan budaya. Seharusnya situasi keberagamaan saat ini divisualisasikan, ditampakkan dan dimunculkan pada arah pesan yang mencerahkan, menggembirakan serta membahagiakan. Dengan begitu esensi Agama dapat dirasakan oleh seluruh elemen yang ada begitu indah memberikan kesejukan. 

Dakwah berkemajuan yang mencerahkan ialah salah satunya yang mesti dilakukan untuk situasi kebangsaan dan keumatan saat ini untuk menjembatani sekaligus membimbing, mengarahkan dan mengingatkan pada setiap peristiwa yang selalu terjadi. Sebab bila dakwah tidak diupayakan dengan strategi dakwah yang sistematis, maka akan kehilangan momentum dan kehilangan peluang dalam menjunjung nilai keadilan. Dakwah berkemajuan memiliki indikasi dan implikasi yang sangat besar dengan tingginya hasil pencapaian nyata di kemudian hari bila situasi bangsa dekat dengan krisis maupun diambang gejolak dunia internasional. Sehingga Islam dan umat Islam akan terselamatkan di kemudian hari serta tidak akan lemah lagi dilemahkan oleh tekanan-tekanan yang arahnya akan merusak akidah, tauhid, keimanan, keislaman dan amalan. Sebab estafet dalam dakwah itu sangatlah penting untuk kemajuan umat di masa yang akan datang sebagai proses menuju peradaban Islam yang berkemajuan dan mencerahkan. Maka dari itu mulai ditanamkan sejak dini keseriusan dan konsentrasi dalam menggapai peradaban, sehingga tidak hanya ketergantungan pada akomidasi dan amunisi negara beserta proyek swasta lainnya yang kemudian hari bisa runtuh akibat perkembangan zaman yang juga merupakan keniscayaan. 

Dengan menerapkan dakwah berkemajuan itu menandakan bahwa pentingnya investasi akhirat baik dalam pemikiran, pergerakan, persatuan dan peradaban Islam di dunia ini dengan nilai ketuhanan yang berketauhidan. Rasional dalam bersikap dan beraktivitas kehidupan sehari-hari, Empati dalam nilai kemanusian sebagai representasi keumatan, dan Progres dalam membangun pondasi-pondasi yang menjadi bangunan-bangunan peradaban Islam dikemudian hari. Karena dakwah hari ini adalah dakwah yang mestinya dan seharusnya mencerahkan, menggerakkan, menggembirakan, membahagiakan tanpa adanya sentimensi yang dibangun baik disengaja atau tidak disengaja. Mulai tinggalkan budaya dan kebiasaan evolutif yang menghambat kemajuan dakwah Islam untuk membina dan memajukan umat yang kian hari jumlah besar ini pun merosot akibat kelalaian-kelalaian. Butuh gerak cepat agar tidak terjadinya situasi stagnan dalam kemajuan Dakwah Islam di era globalisasi, agar tidak pula diserang dari berbagai arah untuk melemahkan pergerakan Islam dalam memajukan dakwah, agar dapat terhindar dari segala tipudaya atau makar sistemik dan agar menjadi kiblat manusia di kemudian hari. Semangat dalam dakwah berkemajuan yang mencerahkan untuk membangkitkan dan memajukan umat dari segala pesoalan dan keterpurukan, sehingga membawa arah kemajuan dakwah yang bernilai tinggi dan menuai manfaat lagi maslahat dikemudian hari serta yang dapat membawa nila ketuhanan yang abadi.

Selasa, 10 Juli 2018

Lemahnya Negara Karena Pemimpinnya


Oleh : Al Azzad 

Fenomena aneh tapi nyata menjadi marak di bangsa ini dan sungguh-sungguh benar terjadi di setiap tingkatannya. Untuk memilih pemimpin dari skala terkecil sampai terbesar jika diambil titik simpulnya akan terlihat sama barometer yang aka dipakai meskipun akan jauh berbeda dari segi sistematikanya, dinamikanya, prosedurnya, mekanismenya dan metodenya. Contoh kecil saja di lingkungan sekolah sebagai aspek pendidikan, sering kali untuk memilih ketua kelas selalu yang menjadi pilihan adalah anak yg cendrung lemah, dianggap netral, mudah ditekan, bermental kacung, bersikap feminis,  rada gemulai, bahkan yang sangat dekat dengan wali kelas atau gurunya, atau justru populer di kelas, bahkan bisa yang paling nakal dan lain sebagainya. Namun rata-rata yang diangkat adalah yang berjiwa lemah atau netral. Hal ini karena adanya tekanan dari teman-temannya yang cendrung lebih mendominasi terhadap kenakalan di sekolah maupun di kelasnya. Sehingga peran ketua kelas harus lemah jangan sampai menjadi tukang mengadu, tukang suruh, tukang pilih kasih atau bahkan yang paling sok bijak dan bermanis muka dengan guru atau wali kelasnya. Bahkan tidak jarang justru pemimpin ketua kelas lah yang menjadi suruhan, menjadi alat untuk tutup mulut terhdap kenakalan-kenakalan yang ada di sekolah maupun di kelas.

Ternyata tidak hanya sampai di situ saja, ini pun mengalir dari tingkatan paling kecil bisa dari TK, SD, SMP, SMA, bahkan ke perguruan tinggi serta di setiap komunitas, organisasi, dan kelompok-kelompok kecil maupun besar. Posisi pemimpin lemah dan netral menjadi langganan terpilih untuk mewakili anggotanya yang didalamnya terdapat dua, tiga atau lebih kubu yang memiliki kepentingan serta keinginan yang berbeda meskipun masih dalam satu barisan tujuan yang sama dalam kelompok ataupun organisasinya. Bila pun ada prestasinya biasanya sangat sedikit dan bahkan kalah dengan anggotanya yang memiliki segudang prestasi dan kemampuan, akan tetapi memilih pada jalan aman sebagai anggotanya saja dan tidak ingin berada di posisi puncak sebagai pemimpin di pucuk kepemimpinan untuk menggerakkan anggotanya. Alasannya pun beragam bisa takut tidak mampu membawa anggota serta organisasi maju, bisa karena tidak berpengalaman, bisa karena tidak memiliki potensi, atau karena banyak anggota yang tidak suka dan lain sebagainya. Inilah fenomena aneh tapi nyata yang ada di bangsa ini, dalam memilih pemimpin pun masih sangat jauh nilai kualitasnya baik manusianya itu sendiri dan kesadarannya. Masih sangat subjektif dalam menilai, memilih, mematuhi, mempercayai dan sebagainya terhadap pengakuan pemimpin. Lebih menekankan pada aspek sosiologis-psikologis ketimbang pada aspek agama-budaya dalam memandang sebuah kepemimpinan yang baik. 

Inilah yang menjadi negara ini sangat lemah dalam menghadirkan kualitas manusia untuk memimpin. Sangat mudah tertekan oleh kelompok yang dianggap keras, ekstrim, nakal, jahat atau lainnya yang lebih banyak mengarah ke arah negatif yakni untuk mengacau balau, menabrak aturan, kriminalisasi, penyelewengan, dan berbagai macam motif buruk lainnya. Di sisi lain juga pemimpin yang sangat dekat ke arah sebaliknya sehingga meninggalkan jauh jaraknya terhadap kelompok tersebut yang seharusnya mampun dirangkul untuk terus diperbaiki, namun ini sangatlah beresiko tinggi butuh keberanian dan nyali. Hal itulah yang terjadi dalam membangun sebuah negara serta mempertahankan dan mengelolanya. Bila negara lemah maka sudah dipastikan yang memimpin jauh lebih lemah karena kenetralan yang tidak memiliki kualitas dan integritas tinggi namun hanya sekedar bahkan tidak dimiliki sama sekali. Akhirnya negara hilang wibawa dan martabatnya, sehingga negara lain sangat mudah melakukan negosiasi, diplomasi, intervensi, ekspansi dan kegaiatan lainnya yang akan mengarah pada neo kolonialisme dan neo imperialisme di era baru dan si seluruh aspek baik politik, ekonomi, budaya, pendidikan, agama, seni, sosial maupun kesehatan serta yang lainnya. Negara hanya menjadi alat dan mainan nansional serta internasional dalam menjalankan misinya baik berdagang, berbisnis, bertransaksi, dan bermain kepentingan yang dapat melemahkan sebuah negara karena kepemimpinan yang sangat lemah. 

Lemahnya negara karena pemimpinnya adalah peristiwa yang sangat miris untuk membangun kedaulatan negara sekaligus mengembalikan kejayaan dalam kemandirian bangsa. Akhirnya negara hanya bermodal ketergantungan dan bermental pengikut dalam permainan politik internasional sekaligus permainan pasar internasional. Dikarenakan negara sangat lemah dibawah kekuasaan para pemimpinnya yang lebih senang bergurau, bercanda ria, bersenang-senang, guyonan, melucu, tertawa-tawa, terbahak-bahak dan bermain-lain layaknya seorang anak-anak yang sedang bermain karena mendapatkan mainan baru tak dapat berpikir jauh bila sudah lelah barulah akan menangis sekencang-kencangnya agar mendapatkan belas kasih orang tuanya. Bila mengurus negara saja tak bisa dikerjakan dan membedakan mana yang urusan pribadi mana yang urusan publik, maka negara akan kacau berantakan karena dianggap lelucon, mainan dan hal lucu yang enteng dan mudah, sehingga kehilangan keseriusan dalam mengelola sebuah negara bagaikan kapal besar yang sedang berlayar yang setiap saat ombak datang menghempas kapal di lautan luas lepas. Sehingga perlu kekuatan, ilmu, pengalaman, mental, jaringan dan segalanya untuk membentuk negara yang kuat, berdaulat dan mandiri. 

Tentu semua berharap agar negara harus dipegang dan dikendalikan oleh para pemimpin yang berkualitas, berkomitmen, berintegritas yang tidak sekedar menjadi juru penyelamat dengan dalih keadilan untuk semua yang tidak diprioritaskan. Jangan sampai negara ini lemah karena setiap kepemimpinan strategis diisi oleh pemimpin lemah, dan akan memberikan efek serta indikasi panjang ke depan nantinya. Negara harus diisi oleh para pemimpin yang berkarakter, berbudaya, berbangsa, bernegara dengan baik yang tidak mencari celah buruk untuk meraih keuntungan pribadi atau kelompok di dalam kekuasaan terhadap negara. Negeri ini subur makmur alamnya, dan tentu harus subur makmur pula manusianya yang berkualitas dan berdidikasi tinggi peduli terhadap nilai ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, kesejahteraan dan keharmonisan. Karena dengan begitu akan terhindar dari fenomena miris yakni negara lemah hanya karena pemimpinnya yang sibuk memikirkan perutnya, pribadinya dan kelompok kecilnya.

Senin, 09 Juli 2018

Membangun Semangat Budaya Literasi


Oleh : Al Azzad 

Semakin canggih teknologi dan informasi tidak berarti semakin tingginya peradaban manusia dan yang ada justru sulitnya terbangun budaya literasi dari generasi ke generasi.  Budaya instan sekaligus konsumsi informasi sangat mudah dan cepat namun hanya sebatas kenutuhan singkat. Informasi pun tak selamanya benar sebab informasi negatif, hoax, palsu juga lebih mudah diterima keberadaanya disebabkan mengandung unsur kontrovesi, reaksi, responsif dan viral yang sangat konfrontatif. Untuk mencerna banyaknya informasi yang bertebaran sekaligus bemunculan adalah dengan nilai literasi sebagai bentuk cara, metode, ukuran, baro meter untuk dapat mengoreksi informasi secara benar. Informasi baik dari berita, sejarah, peristiwa, kejadian, fenomena dan apapun itu tentu harus melewati beberapa tahapan seperti adanya usaha untuk melakukan koreksi, usaha melakukan cros cek, usaha konformasi, usaha tabayun maupun usaha lainnya dengan analisis secara ilmiah maupun empiris. 

Informasi yang sedang marak dewasa ini adalah melalui sosial media baik itu facebook, wa, tiwitter dan instagram yang paling popular bahkan media-media mainstream atau media kredibel atau legal pun bisa terjebak melakukannya baik sengaja atau tidak disengaja. Namun informasi hoax selalu memberikan suasana yang tidak harmonis dan membawa semangat kerukunan juga akan terus menghilang. Masyarakat dunia maya atau disebut netizen pun banyak yang terjebak dengan informasi hoax yang terus merajalela. Bahkan sebagian mereka menjadi produsen informasi hoax demi mendapatkan keuntungan secara finansial ataupun kepentingan lainnya. Sekalipun adanya undang-undang ITE tidak membuat mereka ketakutan atau lumpuh, karena hukum pun terkadang tidak menjunjung nilai keadilan. Artinya kepastian hukum yang lemah dan keberpihakan hukum pada Individu dan kelompok tertentu sangat besar. Terkadang informasi hoax juga bagian dari resistensi terhadap ketidakadilan bahkan menjadi alat kekacuan sosial baik di dunia maya maupun nyata. Ini juga karena lemahnya budaya literasi pada netizen dan masyarakat karena terlalu ektrim pada hal-hal yang instan serta apatisme yang tinggi. 

Tingkat kecerdasan manusia ternyata tidak lagi diukur dari segi budaya literasinya melainkan dilihat dari segi kreativitas instan yang membangun fenomena eksistensi dengan cara viralisasi dari berbagai macam bentuknya. Cerdasnya hanya melihat paradigma digital yang hanya melihat berita dari setiap kejadian namun tidak cerdas dari mengukur berita tersebut melalui jalur yang benar untuk mendapatkan substansi informasi yang bertebaran, berceceran dan bertaburan luas yabg dengan mesin-mesin aplikasi dapat diakses dengan mudah tanpa adanya filterisasi. Menjadi ancaman, virus buruk bagi kecerdasan lintas generasi dan penyakit masyarakat sosial media yang dusta, palsu, hoax dan bohong. Sehingga harus ada penanganan yang tepat untuk menangkalnya dan harus dibangun kembali semangat budaya literasi yang kembali pada semangat membaca, menulis, belajar dari berbagai sumber, literatur, referensi yang ilmiah, benar, empiris, valid dan legal. Semua dengan berbagai tahapan yang serius dan penuh konsentrasi yang tinggi dalam membangun budaya informasi yang menjunjung tinggi validitas informasi tentunya.

Membangun semangat budaya literasi harus mulai digalakkan, digaungkan, dan digemakan kembali agar semua dapat mempelajari segala sesuatu dengan baik dan benar. Tidak dengan serta merta menerima segala informasi secara mentah, serampangan dan sembarangan begitu saja. Tentu dimulai dari membangun daya baca, daya tulis, daya pikir, daya filter, daya tafsir, daya koreksi dan daya intelektual agar dapat mencerna, menulis, membagikan, memahami sekaligus menafsirkan segala informasi yang ada. Tidak mudah dan tidak pula sulit selagi terus berupaya untuk terus mencapai kemajuan dalam budaya literasi yang mencerahkan dan mencerdaskan. Semua harus dipertanggungjawabkan bagi seorang penulis sekecil apapun karya tulis nya dan iti juga termasuk bagi pembaca sekliagus yang ingin membagikannya sebagai bentuk informasi yang dirasa menarik serta sesuai dengan pemikiran karena terwakilkan dengan informasi yang telah dituliskan. Jangn sampai produsen hoax merajalela dalam mengembangkan sekaligus membangun informasi yabmng dapat membingungkan masyarakat, memcah belah, membuat kegaduhan, menyinggung isu SARA, mengadu domba, merusak hamonisasi, dan membodohi publik dengan tulisan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dengan baik. 

Dengan membangun semangat literasi artinya adanya sebuah harapan yang bagus untuk diwujudkan dalam mencedaskan kehidupan bangsa. Dari aktivitas menulis, membaca, menginterpretasi, menelaah, menganalisis dan sebagainya adalah bagian dari budaya literasi yang positif dan progresif. Terus mengcounter segala bentuk pembodohan publik melalui adanya fenomena untuk merusak budaya literasi dengan adanya budaya amoral dan anomali yang mencederai seluruh anak bangsa di era teknologi dan informasi ini. Karena dengan budaya literasi inilah akan menyelamatkan anak bangsa dari segi pemikiran, idelogi, imajinasi, harapan, semangat, mindset serta karya maupun kreativitas lainnya yang dapat membangun semangat literasi yang berkemajuan lagi mencerahkan demi peradaban manusia yang berkarakter dan berkahlak mulia tentunya.

Kamis, 05 Juli 2018

Meredupnya Gerakan Aktivis Mahasiswa


Oleh : Al Azzad 

Era Milenial telah menampilkan wajah baru generasi muda dalam kehidupan sehari-hari. Budaya digital, gudget, sosial media, dan aktivitas cyber lainnya menjadi pola hidup masa kini. Begitu aktif di dunia maya seakan melampaui batas-batas dan mampu menguasai dunia dalam genggaman sekaligus dalam hitung detik. Namun menjadi kaku serta beku di dunia nyata seakan dunia begitu berat sehingga sangat apatis dan skeptis terhadap segala problematika sosial. Menjadi bangga dengan karakter pribadi yang eksis karena jalan narsis dengan banyakanya pengikut, penonton, pemuja, pendukung, pecinta, pembenci dan semuanya melebur jadi satu. Semakin banyak dan popular di sosial media maka semakin mendapatkan panggung ketenaran yang tergantung bakatnya bisa dalam entertainment, infortainment, edutainment, polithictainment, sociotainment, dan lain sebagainya yang akhirnya menjadi ajang hiburan, ketenaran, popularitas serta pengakuan. 

Generasi milenial di kalangan mahasiswa khususnya semakin mulai bergeser perkembangannya. Kini generasi menjadi miskin literasi namun kaya eksistensi, pola pikir sangat apatis dan realistis sehingga sulit menemukan yang masih ideologis dan idealis. Mahasiswa milenial tidak lagi hanya kehilangan idealitas melainkan untuk mengimbangi dengan realitas saja sudah tidak ada bahkan realitas saja redup menjadi mahasiswa kreativitas yang transaksionalitasnya tinggi maupun tingkat popularitas yang terus dikembangkan. Jadilah mereka mahaiswa aktivis sosial media yang juga tidak kaya pemikiran sehingga tak pernah ada kontribusi, solusi dan progres yang bisa diberikan untuk membangun bangsa yang besar ini. Semua terjebak pada budaya konsumtif aplikasi, konsumtif fashion, konsumtif ane food, konsumtif traveling, dan lain sebagainya. Kompetisi dalam setiap ajang prestasi pun sangat relatif kecil, prestasi mulai bergeser dengan bermodalkan viral bila mendapatkan panggung popularitas secara mendadak dengan adanya booming yang kuat. Hal ini pun menjalar kepada kalangan pelajar, remaja dan anak-anak sehingga semua terbolak balik. 

Setiap ada perosalan bangsa terkait kebijakan kontroversial ataupun musibah kebencanaan, berita aktual, informasi korupsi, kegaduhan sosial semua hanya cukup dengan membuktikan suara-suara kicauan di sosial media semata. Tiada lagi aksi, gerakan, demonstrasi, panggung keadilan atau semacamnya yang hadir di permukaan melalui para aktvis mahasiswa. Semua berada pada almamater masing-masing dengan tingkat kesibukan akademik yang tak bisa ditinggalkan akibat mengikatnya aturan. Ruang yang dapat dicapai semakin sempit, sehingga lebih ditekankan pada kegiatan prestatif bersifat minat, bakat, hobby, kemampuan dan kegemaran para mahasiswa. Lebih garang di dalam kampus agar terlihat populer atau senioritas atau kebanggaan lainnya. Bila pun ada sebuah gerakan aksi maupun demonstrasi telah menjadi fenomena transaksional, aksi tebengan, maupun digerakkan karena adanya kepentingan individu ataupun kepentingan kelompok ataupun kepentingan korporasi ataupun kepentingan yang sangat profit oriented. Sehingga aksi pun tak lagi murni Idealisme dan ideologi dari para aktivis mahasiswa melainkan aksi tebengan bersifat politis melalui jalur-jalur dukungan kontrak politik. 

Meredupnya gerakan aktivis mahasiswa menjadi fenomena agen of chage terburuk di era milienial. Suara tergadaikan, idealisme terbayarkan, pemikiran tergeserkan, kekuatan tesudutkan, keberanian terhapuskan dan perubahan terasingkan. Suara hati nurani, suara yang mendengar setiap jeritan rakyat kecil, rakyat tertindas dan rakyat lemah tak lagi dapat didengarkan sehinga tidak peka, non empati bahkan acuh pada lingkungan kondisi masyarakat sektiarnya. Pada akhirnya hanya berbangga dengan aksesoris yang dimilikinya baik dari kendaraannya, kampusnya, pakaianya, nilainya, gudgetnya, sosial medianya, status sosial dan sebagainya yang dimiliki. Mulai adanya stigma dan paradigma bahwa dengab adanya sebuah gerakan, aksi, demonstrasi atau yang lainnya dapat menbuat gaduh kebangsaan, membawa ketidakharmonisan sekaligus ketidaknyaman, memberikan sentimen yang tinggi, dan mengganggu aktivitas lainnya. Semua karena kehilangan nilai yang sangat esensial di seluruh elemen dan lapisan masyarakat di era milenial ini. 

Sudah saatnya mahasiswa bangkit dari tempatnya dengan warna baru yang mencerahkan di era milenial ini. Jangan jadikan alasan-alasan anomali dan fiktif sebagai senjata argumentasi hanya karena fenomena telah berubah. Karena bangsa ini membutuhkan para aktivis mahasiswa yang terpanggil jiwa raganya, rasa solidaritasnya, nilai kemanusiaannya dan seluruh tumpah darahnya untuk membangun, menjaga, merawat, mengawasi, mengembangkan, mengelola, dan mengatur segala tatanan kehidupan yang berkeadilan, berkeadaban dan berkemajuan. Semua tentunya untuk seluruh manfaat nusa bangsa dan agama dalam bingkai NKRI yang tercinta ini. Mulai peka dengan segala isu, diskursus, persoalan, problematika, berita, dinamika, perkembangan dan segalanya agar membawa bangsa ini berada di jalan undang-undang seperti yang telah dicita-citakan oleh para pendahulu. Karena dari para aktvis mahasiswa inilah bangsa ini akan bermartabat, berbudaya, dan bekualitas. Jangan sampai kalah dengan konstetasi dunia internasional serta mampu melakukan resistensi terhadap segala proaganda sekaligus konspirasi jahat yang terus menggempus bangsa ini baik secara langsung maupun tidak langsung dan tetap berada pada jalur konstitusi yang benar untuk membangun keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Rabu, 04 Juli 2018

Kekuasaan Ditangan Yang Salah


Oleh : Al Azzad 

Politik itu kotor adalah ungkapan umum yang sering didengar bahkan menjadi obrolan hangat di masyakarat sehingga sangat anti terhadap politik. Akhirnya banyak yang apatis dan meninggalkannnya dikarenakan politik kotor yang selalu ditampakkan. Padahal itu merupakan bagian dari propaganda politik oleh orang-orang yang berpolitik dengan cara yang kotor agar dapat menghegemoni kekuasaan dan menjadi panggung permanen bagi mereka orang-orang kotor berdasi yang masuk di instanti kenegaraan. Politik kotor itu benar adanya karena memang yang menjadi aktor dan berperan di dalamnya adalah orang-orang kotor yang melakukan akrobat intelektual demi mempertahankan aspek politik sebagai pemegang panggung politik. Sehingga tidak ada yang sanggup dan berani masuk dalam dunia politik kecuali bermental tinggi, siap diserang dan penuh rintangan maupun ancaman yang senyap tidak terlihat dihadapan publik. 

Masih banyak masyarakat secara keseluruhan baik dari para intelektual, akademisi, pedagang, petani, seniman, budayawan dan sebagainya jauh dari keadaan politik ini. Apalagi bila mereka adalah orang-orang yang masih polos, jujur, berintegritas dan tidak terkontaminasi dengan kejahatan terselebung ataupun penyalahgunaan kekuasaan yang terbiasa. Menjadi apatis dikarenakan banyaknya ancaman sekaligus kesulitan yang dihadapi sehingga dapat menyerang nama baiknya, keluarganya sekaligus semua aktivitas kehidupannya. Hal itu terjadi dikarenakan kekuasaan itu memang dipegang oleh para penjahat intelektual yang menjadi pejabat dengan penuh arogansi kekuasaan. Hal tersebut dikarenakan memang bagian dari karir politik yang tidak mudah pula, penuh perjuangan, rintangan dan sebagainya sehingga sebagian mereka banyak memakan asem, manis pahit gejolak politik. Sehingga menjadi dendam terselubung atau bahkan pelampiasan puncak kekuasaan ketika nanti sukses dan berhasil di panggung politik kekuasaan hingga pada akhirnya selalu melakukan politik interventif dengan kebijakan-kebijakan kontroversial yang membuat gaduh, pecah belah sekaligus respon sentimen yang tinggi. 

Itulah kenapa kekuasaan ditangan yang salah adalah bagian dari ancaman negara yang kelak menjadi banyak cacat, penyakit, kerusakan dan kehancuran sistem birokrasi secara nasional baik sektoral, elektoral dan teritorial. Akhirnya idelogi ingin berkuasa permanen akan muncul muali dari fasisme, otoriterisme, monarkisme dan sebagainya. Kontestasi menjadi sengit bila sebagaian kelompok hadir untuk mengimbangi atau bahkan melawan arus buruk di panggung politik karena munculnya kesadaran yang tinggi. Sebab dengan politik itulah semua sistem kehidupan, aturan hidup, persoalan itu diatur. Baik dari urusan mau sekolah,  mau berobat, mau belanja, mau makan, mau nabung, mau mandi, mau bekerja, mau ibadah, mau berlibur, mau sejahtera dan sebagainya adalah didasari aspek politik yang mengatur segalanya. Jadi tidak adalagi alasan bahwa politik itu kotor, tapi masuklah di dalamnya dan benahi semuanya sehingga sapu bersih yang kotor agar menjadi bersih dan menyehatkan serta memberikan kenyamanan maupun keamanan yang berkemajuan. Jangan sampai sikap yang acuh pada dunia politik membuat anti politik namun cendrung lebih responsif dalam menilai, mengomentari, sekaligus menjastifikasi bahwa politik kotor, jahat, buruk, intimidasi, tidak adil dan lain sebagainya. Namun mari sama-sama membangun dan ikut masuk sekaligus berpartisipasi serta berkontribusi besar dalam dunia politik secara luas seusai kemampuan dan keahlian masing-masing.

Bila kekuasaan berada ditangan yang salah akan mengundang malapetaka di suatu negeri. Kegaduhan akan terus ada dan pertikain di tengah masyarakat pun terus mengalir. Maka sudah saatnya hadir dan masuk di setiap panggung kekuasaan yang strategis agar dalat memegang amanah kekuasaan dan membuat kebijakan yang progresif, inklusif, konstruktif dan kontributif. Sudah saatnya kekuasaan berada ditangan orang yang benar, jujur, amanah, adil, berketuhanan, menjunjung nilai kemanusiaan dan menghadirkan harmonisasi kehidupan secara luas. Dengan begitu apa yang dicita-citakan, impikan, wacanakan, imajinasikan, harapkan semua akan terwujud nyata karena kekuasaan berada ditangan yang benar yang berkuasa sesuai amanat sekaligus koridor yang dibangun bersama dari awal. Karena itulah pentingnya kekuasaan berada pada jalan kebeneran dan dipegang oleh aktor, pelaku, subjek yang dapat dipercaya oleh publik serta memberikan kemajuan secara kemandirian demi keadilan sekaligus kesejahteraan yang merata.

Senin, 02 Juli 2018

Menjalarnya Anarkisme Dan Premanisme


Oleh : Al Azzad

Kericuhan bangsa ini tidak hanya karena masalah radikalisme dan terorisme seemata, melainkan ada hal lain yang tidak mendapat perhatian khusus untuk ditindaklanjuti. Negara beserta institusi lainnya bahkan sampai ormas berkicau terhadap adanya radikalisme dan terorisme sampai pada mekanisme anggaran maupun proyek kerjanya. Fokus penanganan dan penanggulangan hanya pada isu-isu radikalisme dan terorisme karena sangat mengancam NKRI dan Pancasila tapi tidak untuk Anarkisme dan Premanisme, padahal sama-sama masuk dalam tindakan kriminal dan bisa lebih jauh lagi sampai ektrim dengan memberikan teror sekaligus rasa takut pada masyarakat, memakan korban dan kekerasan-kekerasan lainnya. Benarlah bahwa negeri ini adalah negeri mafia dikendalikan oleh penganut paham Anarkisme dan Premanisme berkedok intstitusi Negara. 

Tindakan anarkisme di tengah-tengah masyarakat juga merupakan ancaman bagi keamanan dan kenyamanan masyarakat. Bahkan tindakan itu pun jauh lebih parah sampai isu SARA, kekerasan, dan intimidasi maupun persekusi selalu dilakukan secara brutal dengan kelompok besar yang bermassa sangat banyak. Hal ini juga sebenarnya menabrak semua nilai-nilai Pancasila, Undang-undang dan nilai moral lainnya yang sama halnya dengan isu radikalisme dan terorisme. Inilah hal yang tidak intensif dalam melakukan tindakan dan penanganan sekaligus penanggulangan terhadap Anarkisme dan Premanisme yang sama dengan Radikalisme dan Terorisme. Bila radikalisme dan terorisme hadir di masyarakat sipil yang ingin membuat teror dan melawan pemerintah atau negara maka anarkisme dan premanisme pun sama hadir di kalangan masyarakat sipil yang memberikan ancaman keamanan dan kenyamanan bahkan melawan nilai dan undang-undang sekaligus memberi ancaman terhadap kekerasan maupun intimidasi atas nama gerakan anarkis. 

Menjalarnya anarkisme dan premanisme ini tentu menjadi perhatian penting untuk mencegah fenomena kekerasan di masyarakat. Ini membuktikan bahwa negara lemah dan bahkan cendrung membiarkannya karena hanya sibuk meredam aksi radikalisme dan terorisme semata, sehingga anarkisme dan premanisme seakan benteng sekaligus gerakan hitam yang dilindungi serta terlindungi atas nama negara. Radikalisme, Terorisme, Anarkisme, Premanisme adalah bentuk sikap yang sangat fundamentalis dan membangun sikap militansi yang sangat kuat, besar, mengakar melalui doktrin maupun pengaruh penumbuhan mental untuk melakukan revolusi melalui gerakan kekerasan, kebrutalan, dan kerusakan. Ini tidak bisa dibiarkan semuanya, sebab semuanya tetaplah ancaman negara yang akan merintokkan pilar dan pondasi negara ini sehingga akan rapuh maupun lumpuh bahkan tumpul oleh gerakan dengan paham ancaman, teror, kekerasan, intimidasi, persekusi dan laij sebagainya. Apalagi semua itu dilakukan oleh anak bangsa sendiri yang merasa ingin menguasai sendiri kekeyaaan negara maupun kekuasaan negara melalui posisi strategis di setiap intstitusi negara maupun swasta. 

Bila radikalisme dan terorisme dianggap sebagai bentuk kriminalitas atas nama agama dengan cara bom bunuh diri atau menggerakkan jaringan teroris maupun aksi baku tembak di tempat-tempat ibadah, ruang publik dan menebar teror terhadap masyarakat sipil. Maka anarkisme dan premanisme sejatinya pun sama hanya saja atas nama revolusi kekerasan dengan memaksakan kehendak pembenaran dalam merebut kekuasaan dengan memberikan ancaman terhadap masyarakat sipil melalui tindakan-tindakan anrkis mengancan, menakuti serta menguasai wilayah tertentu sebagai bentuk tindakan sosial-ekstrimis. Apapun itu bentuknya, pahamnya, namanya, gerakannya serta caranya tentu semua merupakan bagian dari tindakan kriminalitas yang terlarang serta menabrak aturan-aturan yang ada. Jangan sampai menjadi budaya amoral dan kebiadan manusia atas manusia lainnya yang menjadikan perdaban manusia yang buruk di bangsa ini. Fenomena sosial buruk dari tawuran, klitih, pembacokan, persekusi, sweeping, dan lain sebagainya adalah bagian dari anarkisme dan premanisme yang dibirakan merajalela serta lemahnya penindakan hukum bahkan akademisi sangat bungkam dengan gerakan ini ketimbang isu radikalisme dan terorisme justru sangat reaksionis dan responsif.  Padahal semuanya juga berawal dari pemahaman pola pikir yang dirajut dengan nilai doktrin dan pengaruh pemikiran dalam bentuk kekerasan-kekerasan sebagai bentuk eksistensi kelompok atau organisasi dalam bentuk sektoral maupun teritorial. Maraknya ancaman manusia atas manusia lainnya sebagai bentuk pengakuan, penghormatan, penundukan dan penaklukan seakan menjadi budaya kekerasan yang terus marak di tengah masyarakat. Cara yang menyimpang akan menghasilkan indikasi yang buruk di masa depan untuk membangun moralitas bangsa.

Sudah saatnya melawan gerakan-gerakan kekerasan ataupun separatisme sekali pun yang mengancam masyarakat sipil, negara, bangsa dan agama tentunya. Tidak ada celah bagi orang-orang yang selalu menabrak sistem tatanan kehidupan yang diatur melalui hukum dan undang-undang agar terciptanya keharmonisan dan keteraturan hidup yang menjunjung nilai keadilan sekaligus nilai kesadaran dalam menjunjung tinggi hukum. Jangan karena alasan kekuasaan atau apapun itu menjadikan alat serta kehalalan melakukan kekerasan sehingga hukum menjadi lemah dan hanya berlaku untuk menghakimi masyarakat lemah tapi tidak pada yang kuasa dibalik topeng kekerasan yanh telah didoktrinasi. Yang kuat, hebat, preman, anarkis, radikal, teror, separatis dan sebagainya seolah tidak dapat dikawal dan dbelenggu oleh hukum sehingga menjadi tumpul termasuk kepastian hukum dengan penegakkannya. Karena bangsa ini adalah bangsa yang berkeadilan, berkeadaban, berperikemanusiaan dan berketuhanan untuk menyatukan segala kebergaman bangsa Indonesia.

Tenggelamnya Gaya Politik Pencitraan

Oleh : Al Azzad  Ada masa dimana dulu demokrasi sempat heboh dengan model politik pencitraan yang dikemas apik sedemikian rupa. Dit...