Senin, 11 Juni 2018

Tanda Mukjizat Allah Swt


Oleh : Al Azzad 

Kejadian luar biasa yang diberikan Allah Swt kepada manusia merupakan bentuk Maha Kuasa dan Maha Kuat. Agar manusia tidak merasa dirinya sebagai orang yang segalanya diatas segala-galanya sehingga mengklaim dialah Tuhan yang patut disembah dan diagungkan. Kesombongan manusia serta keangkuhannya bida menjadikannya lalai dan lupa diri terhadap kewajibannya bahkan tugasnya hidup di dunia ini. Cinta dunia dan ingin menguasai serta menaklukkan dunia adalah hasrat dan nafsu terbesar. Tak percaya akan kebesaran dan kuasa Tuhan terhadap kejadian-kejadian luar biasa maupun terhadap keajaiban yang Allah berikan. Hingga terkadang ia sampai menjadi manusia yang terlaknat dan zolim terhadap manusia lainnya.

Mukjizat Allah memang hanya diberikan kepada manusia pilihan yakni nabi dan rasul sebagai bentuk perlawanan terhadap manusia yang membangkang dan tidak percaya kepada Allah dengan jalan tauhid. Manusia lain juga mendapat keistemewaan dengan adanya karomah dan irodah. Selain itu manusia juga dapat merasakan keajaiban Allah atas doanya yang dipanjatkan sehingga datangnya tidak terduga-duga dan disangka-sangka. Semua itu bentuk dari kun faya kun karena apapun bisa terjadi bila Allah sudah berkehendak dan akan membungkam mulut atau lisan-lisan manusia yang berkhianat amupun yang murka. Selalu ada jalan bagi manusia untuk mendapatkan ridho Nya terhadap apa-apa yang diinginkan di dalam doa-doanya. Secara sadar manusia mampu berikhtiar diatas kendali yang hal itupun masih terbatas tentunya untuk mendapatkan kenikamatan di dunia. Secara tidak sadar manusia tidak akan pernah tahu dan mampu seberapa dalam ia bisa mengetahui terhadap hajatnya. Kejadian luar biasa bagi manusia biasa saat ini yang pada umumnya hanya berkeluh kesah, sombong, kikir, khilaf dan sebagainya bisa saja dating dan didapatkan atas kehendak Allah.

Belajar dari sejarah dan kisah nyata para nabi dan rasul dengan mukjizat yang dimilikinya karena Allah dalam menghadapi ummatnya yang berbagai macam. Jangan sampai kita salah kaprah dan salah dalam pemahaman bahwa mukjizat manusia bisa kita dapatkan, namun keajaiban lah yang kita dapatkan dari doa-doa yang pernah kita panjatkan. Dari doa itulah yang akan memberikan sebuah kejadian yang luar biasa bagi kita manusia biasa ini dengan melihat secara sadar terhadap sesuatu yang selama ini mungkin belum pernah kita rasakan dan dapatkan. Maka rasa syukur, tawaduk, sabar, dan qonaah adalah kunci dari segala sesuatu yang Allah berikan kepada kita agar menjadi momentum kejadian yang biasa bagi kehidupan kita. Satu hal yang perlu kita ingat bahwa tidak ada sestua itu yang kebetulan karena semua itu adalah rencana Allah dan takdir Allah, hanya saja kita tidak membayangkan, memikirkan dan merasakan sebelumnya sehingga terlintas dalam benak kita bahwa dengan kesimpulan yang sederhana kita selalu mengatakan bahwa itu adalah kebetulan semata. Semua sudah ada garisnya terhadap keajaiban Allah yang mengijabahkan doa-doa kita yang terucapkan.

Akibat Dari Bahaya Istidraj


Oleh : Al Azzad 

Banyak manusia yang terlena dengan kehidupan di dunia ini, sehingga mereka selalu sibuk dan disibukkan terhadap apapun. Agama baginya hanyalah identitas semata dan merupakan ritualitas musiman dalam waktu-waktu tertentu. Sehingga tidak jarang bila istilah jahiliyyah kontemporer pun muncul di zaman modern ini. Ungkapan yang berkaitan dengan orang yang suka maksiat namun sering kali usaha dan rezekinya selalu berlimpah ruah yang datang bagaikan air yang dimasukkan ke dalam gelas. Dari urusan riba, syubhat, haram sampai kepada urusan yang lebih mendekati kepada mudhorot bahkan jauh dari ajaran Islam ataupun syariat. Sehingga sebagai muslim yang taat kita harus menghindari sifat orang yang suka bermakisat dan melalaikan perintah Allah dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya. Jangan hanya sebatas omongan tanpa tindakan dan tidak mengamalkan agama Islam dengan penuh totalitas. Sangat disayangkan lagi bila mereka yang suka maksiat ini dan rezeki berlimpah dari kalangan muslim yang menguasai pasar dalam hal perekonomian. Maka bisa terjadi sesuatu yang jauh dari syariat Islam, akan selalu menghalalkan segala cara dalam mendapatkan keuntungan ataupun bisnisnya yang hanya mencari profit.

Suka maksiat namun rezekinya tetap berlimpah ini termasuk dalam kajian istidraj yakni orang yang diberi kelimpahan kenikmatan dan rezeki namun dia semakin jauh dari Allah dan sudah tertutup hatinya. Orang yang sudah termasuk istidraj ialah merasa dirinya sebagai manusia yang paling beruntung dan sukses terhadap apa-apa yang sudah dicapainya dengan hasil keringat serta jerih payahnya sendiri. Sehingga dia termasuk orang yang menutup hatinya dengan kebenaran bahkan jauh dari yang namanya hidayah. Allah beri dengan Ar-Rahman, akan tetapi tidak dengan Ar-Rahim Nya Allah. Bila banyak manusia yang masuk dalam kategori istidraj di muka bumi ini, kita akan menjadi jauh dari nikmat anugerah, berkah, inayah dan hidayah Allah terhadap apa-apa yang menjadi kewajiban kita sebagai muslim dan mukmin.

Jika Allah sudah murka terhadap hambanya yang istidraj, maka Allah pun akan membalasnya di dunia ini juga. Dari bencana, bala, penyakit sampai pada rasa ketidaknyamanan dalam menajalani kehidupan di dunia ini. Sebab bila orang yang sudah terbiasa dalam kemaksiatan dan suka berfoya-foya dan menghamburkan hartanya di jalan kemaksiatan serta selalu mendaptkan rezekinya di jalan kemaksiatan pula, maka dia sudah termasuk dalam kategori manusia yang kufur atau ingkar dalam istidraj. Ketidakpuasan terhadap dunia dan sesuatu yang bersifat materialistic adalah bagian dari cara hidupnya untuk menikmati dunia dengan caranya sendiri diatas hawa nafsunya. Kehidupan dunia ini seolah-olah jadi miliknya sendiri dan seutuhnya hanya dialah yang bisa mengendalikannya segala atas keberlimpahan harta dan kenikmatannya. Kalaulah dia mengamlkan agama, itu hanya sebatas bentuk riya atau pencitraannya semata.

Minggu, 10 Juni 2018

Proses Belajar Setelah Hijrah


Oleh : Al Azzad 

Banyak anak muda muslim dan muslimah yang sedang mengalami tren hijrah, memahami bahwa setiap ajaran rasul melihat adalah teladan yang baik. Jadi hijrahnya adalah bentuk kesadaran untuk melupakan segala perbuatan buruknya yang mencampur-adukkan masih dan kebaikan bagi masa kelamnya komposisinya jahiliyyah. Dunia kehidupan memanglah sangat fana, apalagi dunia saat ini berada dalam kekuasaan orang-orang kafir sebagai adidaya atau Negara yang menguasai dan mengendalikan negara ini. Jadi segala bentuk budaya yang diciptakan secara liberal dan sekuler agar mudah Diterima untuk orang muda dan generasi Islam. Tren yang selalu hadir dan muncul adalah kecenderungan kontemporer, yang sangat mengedepankan foya-foya, riya, mubazir, israf, maksiat dan pergaulan bebas tanpa ada batasannya.

Akan tetapi kita masih punya harapan besar untuk Islam yang taat dan yang kembali ke hijrah yang akan diajarkan oleh Rasul Saw dan tokoh-tokoh Islam lainnya hingga tokoh Islam saat ini. Masih banyak generasi Islam yang menajdi teladan dan panutan yang baik dan jauh dari budaya sekuler dan liberal. Dalam hal ini adalah dalam rangka proses belajar hijrahlah yang sangat penting untuk kita dengan baik. Jangan sampai terus berusaha dengan benar untuk hijrah, namun ternayata setelah hijrah hilang dan goyah kembali keimanannya Kembali lagi dalam perilaku-perilaku sesat lagi maksiat kompilasi di masa jahiliyyahnya dulu. Sangat penting sekali untuk menjaga proses hijrah kita dalam fase pasca hijrah ini agar terus konsisten atau istiqomah.

Ada beberapa proses untuk menjaga fase pasca hijrah kita yaitu. 1.) Senantiasa bertemu dengan orang soleh yang semangat belajar agama dan semangat belajar tentang ilmu dunia yang mampu diintegrasikan dengan keseimbangan iman, ilmu dan akal. Maka dekatilah komunitas dan kelompok-kelompok yang dekat dengan aliran Rasul Saw, dekat dengan Al-Qur'an dan dekat dengan Syariat Allah Swt. Dengan hal ini tidak mudah untuk menyepelekan agama dan tidak pula berbesar hati dalam kesombongan akan ilmu agama memperbolehkan masuknya urusan yang dibalut dengan agama. Jika tidak sanggup berkumpul dan bergabung dengan pergaulan bebas, melembutkan iman Anda kemudian bergabung dengan perkumpulan untuk memperkuat keimanan dan meningkatkan kejanggalan. Senantiasa belajar dan ikut berdiskusi dalam hal urusan dunia sebagai bentuk amanah Allah Swt yang harus dijaga dan ditangani. 2.) Selalu bersama orang-orang seperti kita melihat, dan memberikan pintu hidayah, membuat segala sesuatu dan menjadikannya menjadi Pelajaran dan teladan agar kita bisa tetap dalam hijrah uang istiqomah. Dengan demikian menandakan bahwa kita memang benar-benar serius dan telah dilakukan dalam hati untuk menjalani kehidupan yang hakiki sesuai dengan kata dan tidak lagi sesuai dengan dunia maksiat dengan berbagai hal yang menghasut dan menjerat. 3.) Menjauhkan diri dari segala sesuatu yang merusak, menghancur, memecah belah, merugikan, dan menyengsarakan orang laina tau kelompok. Harus selalu berusaha dan menyelesaikan misalnya, pencerah,

Proses belajar hijrah ini memang sangat berat dan lengkap serta ujian yang melanda kehidupan kita. Akan banyak sekali musuh yang selalu bertambah, akan banyak orang yang mulai menjauhi, akan banyak orang yang pria menyebar fitnahnya, akan banyak orang yang syirik lagi iri maupun dengki, bahkan akan banyak orang yang senantiasa ingin mencelakakan kita. Itu merupakan ujian terbesar, Jumlah orang yang bisa mulai kembali, bisa kembali dan bisa mencapai arah ke masa jahiliiyyah di era kontemporer. Meskipun kami harus senantiasa belajar untuk meningkatkan kualitas ilmu dan kualitas takwa, agar belajar pasca hijarah dapat menuntun kita terus berada di jalan yang lurus, ada banyak yang selalu ingin membelokkan kita pada jalan-jalan keaksiatan dan kezoliman. Memang tiada manusia yang sempurna, namun kita masih bisa membebaskan agar menjadi insan kamil agar menjadi pribadi yang takwa. Pasrah adalah bentuk kta untuk kembali jahiliyyah, sementara semangat adalah bentuk kita untuk terus ada di jalan syariat. Jangan bersedih, jangan takut dan jangan kalah terhadap apaun yang datangnya dari berbagai jahiliyyah kontemporer yang sangat hebat dan memuaskan. Karena Allah selalu memberikan nikmatnya yang begitu luas dan semua ini. jangan takut dan jangan kalah terhadap apaun yang datangnya dari berbagai jahiliyyah kontemporer yang sangat hebat dan memuaskan. Karena Allah selalu memberikan nikmatnya yang begitu luas dan semua ini. jangan takut dan jangan kalah terhadap apaun yang datangnya dari berbagai jahiliyyah kontemporer yang sangat hebat dan memuaskan. Karena Allah selalu memberikan nikmatnya yang begitu luas dan semua ini.

Toleransi Antar Umat Beragama


Oleh : Al Azzad 

Memahami makna toleransi adalah bentuk sikap kerukunan antar beragama antara satu dengan yang lain di dalam sebuah kehidupan berbangsa dan bernegara. Indonesia sebagai Negara berlandaskan Pancasila dan sebagai orang Muslim, sudah membuktikan bahwa Negara kita sangat tangguh dan ini sudah merupakan kultur dan pengajaran dari para pendahulu sebagai tokoh-tokoh yang telah memperjuangkan bangsa Indonesia. Sikap saling menghormati dan saling menghargai adalah bentuk cerminan dalam sejarah panjangnya untuk senantiasa menjaga kerukunan antar beragama. Hal ini untuk menjaga semangat perjuangan, semangat kebangsaan dan semangat cinta pada tanah air. Rasa cinta imi adalah wujud untuk senantiasa mempertahakan negeri ini dan tidak saling bertentangan dengan yang lain.

Islam menulis dan memberi jawaban dalam konteks beragama yang sudah dicontohkan oleh Rasul Saw ketika berada di madinah dalam mengayomi rakyatnya. Namun, sebagian di dalam muslim tidak mengetahui secara luas dan lebih dalam memahami arti dari agama lain. Pengetahuan dan pemahaman yang dipahaminya justru malah mendekati intoleransi. Sebab, secara sosial, kita dapat melakukan sesuatu yang sama dengan yang tidak sesuai, tidak digunakan, tidak memungkinkan dan tidak membantu, dan membuat keputusan dalam penafsiran akal secara pribadi. Termasuk orang-orang yang beragama dan saling bermusuhan.

Ada beberapa usaha agar kita bisa merealisasikan dan mampu mengimplementasikan makna antara orang-orang yang baik dan benar tanpa harus menyudutkan dan harus bermusuhan. Pertama adalah akidah dan keyakinan sebagai bentuk keimanan tidak diintegrasikan ke luar Islam. Apapun bentuknya hanya dengan mengirim gurau, canda tawa dan dan olok-olok atau mempermainkan. Kecuali jika dalam diskusi atau dialog dan berada pada forum pembahasan antar agama yang saling membenarkan dan menguatkan keyakinan masing-masing dalam bentuk forum pengetahuan. Hal tersebut dapat menyelamatkan kita dari perbuatan fasik dan munafik dengan dosa yang disengaja atau tidak disengaja. Kedua hal itu secara sosial dan wujud dalam membangun keharmonisan dalam semangat antaragama tidak saling menyinggung terhadap bentuk ritualitas, ajaran, keyakinan dan tradisi yang ada untuk dibenturkan atau didekatkan. Dalam hal ini akan lebih baik jika dibandingkan dalam bentuk saling tolong menolong, menjaga kedamaian, melindungi dari bentuk kriminalitas, bersama menolak kekerasan dan teror. Karena memberikan penghargaan kepada orang-orang yang beragama dengan harmonis.

Sabtu, 09 Juni 2018

Pasangan Hidup Menurut Al-Qur'an


Oleh : Al Azzad 

Sesungguhnya manusia itu diciptakan saling berpasang-pasangan antara laki-laki dan perempuan melalui jalan ta’aruf yang kemudian pada jenjang pernikahan. Fitrah manusia bila memiliki sebuah keinginan dan kebutuhan hidup baik secara fisik dan secara rohani yan masih dalam aturan yang baik. Al-qur’an sebagai pedoman hidup manusia telah membukan jalan serta ruang terbuka bagi kita yang mampu memahami serta mendalami ayat Al-qur’an. Hokum menikah dapat berubah statusnya yang dilihat dari segi kontekstualnya serta realisasinya yang terjadi. Jika melihat fenomena kejadian saat ini yang berkaitan dengan pernikahan menjadi sangat tabu bagi sebagaian yang lainnya. Padahal kita perlu mempelajari tentang pernikahan atau munahakat, tentang fiqih wanita dan tentang persiapan baik itu pra nikah dan pasca nikah.

Hanya saja terkadang banyak anak muda dan mudi yang justru larut dalam lubang kemaksiatan yang mengikuti pola trend saat ini, yang bersifat temporal, relative dan cepat berinovasi. Kemaksiatan itu bisa berbentuk pacaran, zina, berkhalwat, kumpul kebo, pergaulan bebas, club malam dan sebagainya. Sehingga proses dipertemukannya jodoh oleh Allah akan sama pula dengan kebiasaan dan aktivitas masing-masing individu. Hal ini lah yang seharusnya kita hindari dan tidak larut di dalamnya agar menjadi teladan.

Tips dalam memilih pasangan menurut Al-qur’an ialah bahwasanya laki-laki yang baik akan dipertmeukan pula dengan yang pasangan perempuan yang biak. Bila laki-lakinya tidak baik akan dipertemukan pula yang sama dengannya. Sudah terlihat sangat jelas dan normative bila mengikuti dan mendekati. Al-qur’an banyak kmengajarkan tentang masalah pernikahan, konsultasi pernikahan, cara mencari psangan, belajar membangun rumah tangga sampai pada kesepakan antara pasangan tersebut. Bagi yang tidak memiliki pasangan atau belum berumah tangga atau bisa melalui jalan perantara dan jalan kemudahannya yakni dengan konsultasi pernikahan pada umumnya.

Agar pasangan kita masih dalam bentuk dakwah dan syariat dalam mencari pasangan atau ke jenjang pernikahan secara cepat dan cendrung memiliki progresifitas dengan cara sistematis dan terukur. Dengan metode kafaah atau semisal/serupa/setara dan masih memiliki kemampuan yang sama, itu akan memudahkan kita bersama para calon pendamping nanti. Namun jangan sampai menjadi crash atau ketidaknyamana ketika sudah mantap dengan pasangannya. Hal ini agar dapat terus menjaga kepercayaan, menjaga pergaulan, menjaga sergala kemampuan atau bakatnya. Ditambah pula dengan hadits, bahwa menikah dengan berbagai cara dan polanya.

Melihat dari kemampuan baik secara ekonomi, agama, keturunan, fisik dan sebagainya, apakah kita termasuk orang yang akan kewalahan dan justru malah ketidakmampuan dalam mencari dan memutuskan untuk mengucapkan kata siap serta sertusnya. Maka memilih pasangan yang baik adalah orang datang ketika tidak membutuhkan dalam arti tidak butuh lagi untuk bermain-main seperti halnya remaja atau muda-mudi yang hanya masih bermain perasaan dalam kekanak-kanakan semata, maka carilah pasangan yang baik bisa melalui jalur rekomendasi sampai pada jalan bertemu yang memang sudah direncanakan atau pada jalan ikhtiar yang ditempuh sendiri .

Mengembangkan Strategi Dakwah Kontemporer


Oleh : Al Azzad 

Sebagai seorang muslim khususnya mubaligh yang memiliki potensi serta ilmu agama yang cukup, maka sudah seharusnya melakukan misi dakwah amar ma’ruf nahi mungar kapan saja, dimana saja dan bagaimana pun keadaan dan kondisinya. Melihat canggihnya teknologi saat ini, membuat semua kalangan mudah mendapatkan informasi termasuk ilmu agama. Hanya saja ummat pun semakin banyak bingung dan tidak mampu memahami agama secara kaffah dan totalitas yang merujuk pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Problematika kontemporer sangat kompleks dan terus mengalami perkembangan dari masa ke masa, sehingga ummat kesulitan memahami agama dalam konteks kehidupan sehari-hari di era kontemporer. Kecendrungan akal sebagai bentuk rasionaltas adalah ciri pola pikir manusia saat ini, sehingga kelemahannya ialah terlalu mudah untuk menafsirkan sesuatu dengan pendekatan hawa nafsu dan nafsi atau hanya atas dirinya sendiri sebagai keinginan ataupun kebutuhannya. Tren di masyarakat yang semakin materialistis ekstim membuat gaya hidup yang sangat hedonis dan konsumtif. Hal itu dapat menyebabkan ummat hanya berpikir dan bertindak untuk mencari uang serta keuntungan semata dengan menabrak kaidah, syariat dan ajaran Islam itu sendiri. Pada akhirnya menghalalkan segala cara pun akan dilakukan, memakan riba yang terkadang sudah tahu ilmunya, bertidak sangat koruptif dalam hal apapun, memperkaya diri dengan jalan kebatilan, tidak lagi memiliki kesadaran untuk menolong ataupun berbagi terhadap sesama dan tidak lagi memiliki kesadaran untuk memajukan ummat atau masyarakat.

Untuk menghadapi kompleksitas problem dan persoalan ummat di era kontemporer perlu dilakukan dakwah strategis untuk bisa menjawab serta mencerahkan lagi menggembirakan ummat dengan risalah kebenaran Islam dm menghadapinya. Kemajuan dalam hal ilmu pengetahuan teknologi dan komunikasi bukan menutup sebuah jalan dakwah amar ma’rufnahi mungkar, melainkan justru memberi pelajaran dan membimbing ummat dengan sumber yang tidak akan pernah matioleh zaman yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah. Perlu adanya progersivitas dakwah dalam menghadapinya dengan melakukan strategi dakwah kontemporer yang mengintgrasikan nilai spritualitas dengan rasionalitas sehingga memberi pencerahan dan dapat menjawab segala persoalan ummat di era kontemporer. Dakwah yang sangat kretaif, inovatif, dan konstruktif adalah bagian dari misi dakwah kontemporer yang disajikan untuk umat modern saat ini.kecendrungan masyarakat atau ummat modern ialah mudah bosan, gampang lelah, berpikir instan, apatis terhadap isu sosial, lemah dalam sebuah gerakan, dan selalu berorientasi profit atau untung rugi. Sehingga dakwah yang bisa masuk dan diterima ialah dakwah yang menggembirakan dan mencerahkan umma tanpa harus menghakimi atau menyudutkan segala bentuk kegiatannya yang masih dalam ranah syariat, maslahat,positif dan bermanfaat. Hanya saja memang butuh kehati-hatian dalam menghadapinya, disebabkan manusia saat ini yang sangat modernis sangat individulalistis sehingga sangat rentan terhadap aspek sosial. Strategi merupkan bentuk formulasi yang diatur secara sistematis dan rapi serta disesuaikan dengan sistuasi dan kondisi yang sedang berkembang agar tercapai pada tujuannya. Oleh karena itu, strategi yang sangat baik harus bersifat dinamis, humanis, dan agamis. Sedangkan dakwah adalah ajakan, seruan, panggilan dalam hal kebaikan yakni amar ma’ruf nahi mungkar agarkembali pada ajaran Allah dan Islam sebagai tujuan dan pedoman hidup yang berlandaskan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dakwah tidak hanya sekedar hak dan kewajiban melainkan bagian ruhul nihad danruhul ikhlas yang harsu ditanamkan oleh para dai, daiah, muballigh dan muballighat. Kemudian kontemporer ialah waktu masa sekarang, kekinian, saat ini, dewasa ini yang menjadi era kemajuan manusia dalam mencapai sebuah ilmu pengetahuan yang sangat majudan berkembang. Maka strategi dakwah kontemporer ialah formulasi dakwah yang berkemajuan untuk menggembirakan ummat manusia dalam menerimakebenaran yang hakiki dari Allah SWT.

Adapun konsep dan langkahnya dalam melakukan strategi dakwah kontemporer ialah dengan beberapa tahapan berikut, yakni :

Dakwah For Education, Dakwah For Experience, Dakwah For Exhibition, Dakwah For Exploration, Dakwah For Entertainment.

Melihat era kontemporer, dakwah harus dilakukan dengan berbagai sarana dan prasarana yang ada atau dsebut juga dengan media dakwah. Dengan demikian konsep dakwah yang dilakukan secara strategis dan dinamis dapat berjalan sesuai dengan syariat Islam.

Dakwah For Education maksudnya adalah dakwah untuk Pendidikan baik dikalangan terpelajar maupun masyarakat umum atau awwam, sehingga proses dakwah sangat mendidik dan memberikan edukasi kepada ummat. Dakwah For Education sama saja dengan konsep Tarbiyah dan Taklim, hanya saja dakwah ini lebih dikemas secara apik dan modernis dengan nilai-nilai kemajuan dan perubahan serta perkembangannya. ”Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. Dari ayat tersebut sangat jelas dan dapat kita ambil pokok pikiran, pelajaran, proses pembelajarannya sebagai berikut: 1. Orang tua wajib memberi pendidikan kepada anak-anaknya. 2. Prioritas pertama adalah penanaman akidah, pendidikan akidah diutamakan sebagai kerangka dasar/landasan dalam membentuk pribadi anak yang soleh (Kompetensi Profesional). 3. Dalam mendidik hendaknya menggunakan pendekatan yang bersifat kasih sayang, sesuai makna seruan Lukman kepada anak-anaknya, yaitu “Yaa Bunayyaa” (Wahai anak-anakku), seruan tersebut menyiratkan muatan kasih sayang/sentuhan kelembutan dan kemesraan, tetapi dalam koridor ketegasan dan kedisplinan, bukan berarti mendidik dengan keras. (Kompetensi Personal).

Syed Muhammad Naquib Al-Attas (1980) berpendapat bahwa pendidikan tidak hanya mengenal sesuatu dan mengembangkan potensi yang ada, tetapi juga harus mampu membimbing dirinya menuju pengenalan dan pengakuan terhadap Allah SWT. Karena itu, ia menawarkan sebuah konsep yang dapat mewakili dari maksud dan tujuan pendidikan dalam Islam, yaitu konsep ta’dib. Konsep ta’dib menurut Al-Attas mencakup disiplin tubuh, jiwa, dan ruh; disiplin yang menegaskan pengenalan dan pengakuan tempat yang tepat dalam hubungannya dengan kemampuan dan potensi jasmaniah, intelektual, dan ruhaniah. Menurutnya, pendidikan dalam Islam harus membentuk pribadi yang baik (good man), Karena itu pendidikan dalam Islam tidak terbatas pada masalah pengembangan intelektual semata. Al-Ghazali (1058-1111) pun memandang sama tentang pendidikan. Ia berpendapat bahwa tujuan pendidikan dalam Islam meliputi tiga aspek, yaitu keilmuan, kerohanian, dan ketuhanan. Aspek keilmuan, yang mengantarkan manusia agar senang berpikir, menggalakkan penelitian dan mengembangkan ilmu pengetahuan, menjadi manusia yang cerdas dan terampil. Aspek kerohanian, yang mengantarkan manusia agar berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur dan berkepribadian kuat. Aspek Ketuhanan, yang mengantarkan manusia beragama agar dapat mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dengan demikian pendidikan dalam Islam sangat memperhatikan pembentukan kepribadian dengan menekankan aspek moral, spiritual dan intelektual.

Dengan demikian, dakwah dan pendidikan memiliki kesamaan tujuan, yaitu membentuk kepribadian manusia yang utuh dan berakhlak mulia. Maka dakwah melalui pendidikan sangat tepat untuk menjawab tantangan dakwah seperti dikemukakan di awal. Karena itu, tidak sedikit lembaga-lembaga Islam melakukan dakwah melalui pendidikan dengan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan—seperti Muhammadiyah. Basya tahun 2009 dalam artikelnya mengungkapkan bahwa Muhammadiyah  sebagai gerakan modernis, sejak awal telah menyediakan pendidikan modern bagi umat Islam. Karena itu Muhammadiyah mendirikan lembaga pendidikan mulai dari Taman Kanak-Kanak sampai Universitas. Begitu pula lembaga-lembaga Islam lainnya banyak yang mendirikan lembaga pendidikan baik yang formal maupun non formal, seperti Persatuan Islam mendirikan banyak pesantren. Termasuk mendirikan Sekolah Tinggi Agama Islam. Nahdhatul Ulama pun ikut mendirikan pesantren-pesantren. Namun, dalam pelaksanaannya langkah ini, belum mampu memberikan hasil yang optimal. Begitu banyak lembaga dakwah yang menggarap bidang pendidikan, tetapi tujuan pendidikannya belum tercapai, baik tujuan pendidikan dalam Islam maupun tujuan pendidikan nasional. Sebaliknya, dekadensi moral di kalangan umat Islam terus menggelinding seperti bola salju.

Dakwah For Experience maksudnya adalah dakwah untuk pengalaman hidup yang dijadikan sebagai landasan serta proses pembelajaran bagi para mubaligh untuk terus berupaya berdakwah dari waktu ke waktu. Sehingga dengan strategi tersbut diharapkan kematangan konsep dan kedewasaan berpikir serta kesalehen sosial semakin tampak eksis yang bisa diterima oleh masyrakat luas. Ibnu Hajar rahimahullah pernah menyampaikan cerita tentang sebagian penuntut ilmu, bahwasanya ada di antara mereka yang melakukan perjalanan ke Damaskus untuk menimba hadits dari seorang Syaikh tersohor yang ada di sana. Lalu ia pun belajar dan membacakan beberapa hadits di hadapan Syaikh tersebut. Akan tetapi Syaikh itu selalu membatasi antara diri dengan murid-muridnya dengan sebuah tabir, sehingga mereka tidak dapat melihat wajahnya secara langsung. Ketika seorang murid tersebut telah lama mengambil ilmu darinya, dan ia mengetahui betapa antusias murid yang satu ini, akhirnya ia membuka tabir agar muridnya itu dapat melihat wajahnya. (Setelah dibuka) ternyata rupa Syaikhnya berwujud keledai. Kemudian Syaikh tersebut berkata seraya menasehati: “Berhati-hatilah wahai muridku dari mendahului imam (dalam shalat), karena sesungguhnya aku pernah membaca sebuah hadits dan aku menganggap hal itu tidak mungkin terjadi. Lalu aku pun mendahului imam dan ternyata wajahku berubah seperti yang engkau lihat sekarang ini. [al-Qaul al-Mubin fi Akhta` al-Mushallin, karya Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman, hlm. 252, cetakan Dar Ibnul Qayyim dan “Tidakkah takut orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam, Allah akan merubah kepalanya menjadi kepala keledai?! (HR. al-Bukhari dan Muslim)Semoga Allah merahmati Syaikh dan mengampuni dosanya. Meskipun ia pernah meragukan sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun alhamdulillah ia bertaubat kepada Allah dan menasehati murid-muridnya agar tidak meragukan, melecehkan atau menentang sunnah yang datang dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dakwah For Exhibition maksudnya adalah dakwah untuk seni yang dipertunjukkan melalui retorika dakwah yang sesaui dengan konsep Al-Qur’an dan As-Sunnah, sehingga tidak terlalu israf atau berlebihan dalam menyampaikan dakwah serta tidak pula tidakbegitu lemah dan loyo dalam berdakwah. Dakwah memang harus ditunjukkan secara totalitas, all out dan semaksimal mungkin agar pesan dakwah dan materi dakwah dapat diterima serta diamalkan oleh ummat. Sejarah seni pertunjukkan juga mengalami perkembangan, mulai dari seni pertunjukkan klasik, tradisional, modern, dan kontemporer. Namun, pada pembahasan kali ini akan dibahas berkaitan dengan seni pertunjukkan Adapun relasi antara seni pertunjukkan Indonesia dengan Islam sebagai berikut: Bentuk-bentuk seni yang sudah ada sebelum diperkenalkan Islam, kemudianberubah dengan adanya pengaruh Islam. Jadi, ketika Islam masuk segala bentuk seni yang ada dalam masyarakat mendapat pengaruh dari Islam. Seni baru yang ketika diperkenalkan ke Indoensia sudah bermuatan Islam. Beberapa karya kontemporer yang tidak terikat secara ketat dengan tradisi tertentu, tetapi kesan Islam tampil lebih jelas seperti yang dicontohkan sunan kalijaga. Metode dakwah Sunan Kalijaga tersebut dianggap sangat cerdik. Antara seni, kebudayan tanpa mereduksi esensi ajaran Islam dapat diharmonikan oleh Sunan Kalijaga. Sehingga dalam penyebaran agama Islam tak sampai menimbulkan reaksi negatif di kalangan masyarakat yang fanatik dengan tradisi leluhurnya. Ada karakter wayang yang sangat khas Indonesia. Kehadiran karakter lokal itu tidak lepas dari peran Sunan Kalijaga. Walaupun pada umumnya kisah pewayangan menggunakan lakon Ramayana dan Mahabarata yang masih ada hubunganya dengan ajaran Hindu, Sunan Kalijaga tidak kehilangan kecerdikanya dalam berdakwah. Sunan Kalijaga meramu dakwahnya sedemikian rupa sehingga sampai saat ini pertunjukan wayang identik dengan ajaran moral pribadi, moral sosial, serta moral ketuhanan atau moral religius yang bernafaskan Islam. Karakter-karakter wayang yang dibawakanya pun beliau tambah dengan karakter baru yang mencerminkan nafas Islam. Misalnya karakter Punakawan yang terdiri atas Semar, Bagong, Petruk, dan Gareng adalah karakter yang sarat dengan muatan Islam khas Indonesia. Kehadiran karakter lokal itu melambangkan orang kebanyakan. Karakternya mengindikasikan bermacam-macam peran, seperti penasihat para kesatria, penghibur, kritik sosial, badut, bahkan sumber kebenaran dan kebijakan.

Dakwah For Exploration maksudnya adalah dakwah untuk dikembangkan secara luas, dieksplorasikan ke berbagai aspek kehidupan baik dari kalangan komunitas, LSM, kelompok masyarakat dan sebagainya. Dakwah yang dieksplor ke seluruh penjuru baik terpencil, desa dan perkotaan adalah lahan dakwah yang semuanya bersifat potensial untuk menggerakkan dan mecerahkan ummat agar tetpa berbahagia dengan Islam. Dakwah yang dieksplorasikan secara luas, kompleks, totalitas, seluruh dimensi, berbagai bidang media, wilayah dan daerah adalah bentuk ekplorasi dakwah yang sangat menggaung dan menggema ke seluruh dunia untuk membangun peradaban Islam secara luas. Seorang da’i harus memurnikan niatnya untuk mengajak kepada agama Allah, semata-mata mencari ridhaNya, bukan mengajak kepada dirinya sendiri, kelompoknya, atau pendapat dan fikirannya. Juga tidak dengan niat untuk mengumpulkan harta, meraih jabatan, mencari suara, atau tujuan dunia lainnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima dari semua jenis amalan kecuali yang murni (ikhlas) untukNya dan untuk mencari wajahNya. [HR Nasa-i, no. 3140. Lihat Silsilah Ash Shahihah, no. 52; Ahkamul Janaiz, hlm. 63]. Oleh karena itulah, Allah memerintahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengatakan, bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak meminta upah dalam menyampaikan Al Qur`an kepada mereka.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

قُل لآ أَسْئَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ هُوَ إِلاَّ ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ

“Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al Qur`an)”. Al Qur`an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala umat.” [Al An’am : 90]. Karena, jika Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta upah, maka hal itu akan menyebabkan umat menjadi keberatan dan menjauh. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di t berkata di dalam tafsirnya: “Yaitu: Aku tidak meminta pajak atau harta dari kamu sebagai upah tablighku dan dakwahku kepada kamu, karena itu akan menjadi sebab-sebab penolakan kamu. Tidaklah upahku, kecuali atas tanggungan Allah”. [Taisir Karimir Rahman, surat Al An’am : 90].

Dalam ayat lain Allah Azza wa Jalla berfirman:

أَمْ تَسْئَلُهُمْ أَجْرًا فَهُم مِّن مَّغْرَمٍ مُّثْقَلُونَ

“Ataukah engkau meminta upah kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan hutang”. [Ath Thur : 40]. Dakwah dengan tanpa meminta upah, itu merupakan bukti kebenaran dakwah tersebut. Allah Azza wa Jalla mengisahkan tiga rasulNya yang diutus bersama-sama, kemudian semuanya diingkari oleh kaum mereka. “Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota dengan bersegera, ia berkata: “Hai kaumku ikutilah utusan-utusan itu, ikutilah orang yang tidak meminta upah (balasan) kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. [Yasin : 20-21]. Nabi-nabi zaman dahulu juga tidak meminta upah kepada kaum mereka. Allah Azza wa Jalla memberitakan bahwa Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Shalih, Nabi Luth, Nabi Syu’aib -‘alaihimus salam- berkata kepada kaumnya masing-masing: “Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam”. [Asy Syu’ara’ ayat 109, 127, 145, 164, 180].

Sungguh sangat disayangkan, umat Islam terlanjur kecewa karena para da'i yang ada tidak mengenal ilmu-ilmu modern yang berkembang di masa sekarang. Oleh karena itu, mayoritas umat Islam terlanjur merasa kecewa atas kemunduran cara berpikir para da'i. Sebab, mana mungkin seorang da'i akan menerangkan tentang berbagai ilmu modern yang tidak pernah ia pelajari. Perlu diketahui bersama, bahwa apabila seorang da'i dibutuhkan untuk menerangkan suatu permasalahan yang berkembang di masanya, akan tetapi ia tidak memiliki cukup ilmu guna menerangkannya, maka mana mungkin ia sanggup memahami makna kewajiban dari amar ma'ruf nahi munkar yang mesti ia sampaikan. Sudah tentu jawabannya adalah tidak. Bahkan, para d'ai dimaksud dituntut untuk mempelajari serta menggali berbagai ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya, terutama yang berkaitan dengan strategi dakwah, agar ia dapat menerangkan materi dakwahnya kepada orang lain dengan baik. Sebab, menuntut ilmu untuk memajukan tujuan dakwahnya kepada orang juga termasuk kewajiban bagi seorang da'i. Dewasa ini banyak kaum muda yang sibuk mempelajari berbagai cabang ilmu pengetahuan modern, seperti fisika, kimia, dan ilmu astronomi. Hingga sudah menjadi kewajiban bagi setiap da'i untuk mempelajari ilmu-ilmu yang berkembang di masa yang sama, agar ia dapat menerangkan materi dakwahnya dengan cara-cara yang modern pula, yang dapat diterima oleh masyarakatnya.

Perlu untuk segera dipahami secara saksama, bahwa alam semesta dan segala apa yang terjadi di dalamnya merupakan bahasa yang mesti diapresiasi sesuai dengan kehendak-Nya. Oleh karena itu, setiap mukmin wajib mempelajari bahasa dimaksud, dan berpegang teguh pada setiap tunas yang berkembang di dalam perkembangannya. Jika tidak, maka ia tidak akan mengerti sedikit pun tentang firman-firman Allah Swt. yang membicarakan perihal pengetahun yang ada di sekeliling kita. Jika seorang da'i tidak memahami rahasia perkembangan ilmu pengetahuan yang terus berjalan sesuai masanya, maka ia akan tersisih dari masyarakatnya. Dan harus diingat pula, bahwa ada sebagian dari firman Allah Azza wa Jalla yang menerangkan tentang fungsi alam semesta, utamanya yang berkaitan dengan perkembangan ilmu-ilmu modern seperti saat ini. Tentunya, seorang da'i yang membaca dan sekaligus menelaah Al- Qur'an, namun ia bersikap tidak mau (enggan) mempelajari ilmu-ilmu modern, maka dapat dipastikan ia tidak akan bisa memahami firman-firman Allah dalam konteks dimaksud. Sehingga ia akan termasuk seorang da'i yang melalaikan bagian yang juga penting dari ajaran Al-Qur'an; meskipun ia dapat menamatkan bacaan isinya setiap hari. Allah Yang Mahabijak sengaja menurunkan Al-Qur'an kepada manusia, agar mereka mempelajari dan memikirkan kandungan ayat-ayat-Nya. Jadi, siapa saja yang ingin membela Al-Qur'an, maka hendaknya ia mempelajari ilmu-ilmu yang diterangkan di dalam Al-Qur'an, tanpa kecuali. Hingga perlu untuk dipahami pula, bahwa setiap dakwah yang disampaikan oleh para da'i, meskipun mereka menyampaikannya dengan sempurna serta baik, akan tetapi belum tentu dakwahnya akan diterima dengan baik oleh para pendengarnya, akibat para da'i-nya tidak mengerti kemajuan ilmu pengetahuan modern yang bersinggungan secara langsung dengan materi yang disampaikannya.

Setiap penjelasan yang disampaikan oleh seorang da'i yang tidak bisa dipahami oleh akal orang-orang di masanya, maka keterangan itu tidak akan mendekatkan para pendengarnya kepada Al-Qur'an. Bahkan akan menjauhkan mereka dari Al-Qur'an, karena mereka menganggap Al-Qur'an sebagai sumber pengetahuan yang tidak lagi update. Para sahabat Rasulullah Saw. mempunyai pengetahuan lebih maju dari masyarakat yang ada di masa mereka. Sehingga mereka dapat menerangkan kepada orang-orang jahil berbagai pengetahuan baru (update di masa mereka) yang mereka terima secara langsung dari Al-Qur'an. Demikian pula para da'i yang datang setelah generasi para sahabat juga mempunyai pengetahuan yang lebih luas dari apa yang diketahui masyarakat di masa mereka. Misalnya Imam al-Ghazali. Ia seorang ulama yang mengarahkan berbagai cabang ilmu pengetahuan yang mengagumkan orang-orang di masanya. Bahkan kekaguman mereka berlangsung untuk waktu beberapa masa setelah wafatnya Imam al-Ghazali. Bahkan tokoh yang sekaligus ilmuwan Barat Gibb dan Rinan sangat kagum terhadap pemikiran Imam al-Ghazali; sebagaimana yang pernah mereka ungkapkan secara langsung sebagai berikut, “Kami tidak pernah mendapatkan seorang pun yang tingkat berpikir dan sekaligus keluasan ilmu pengetahuannya sama dengan Imam al-Ghazali pada masanya.” Kejadian semacam itu selalu terjadi berulang kali di setiap masa pada masamasa kejayaan Islam. Seperti para tokoh pembaharu sekelas Imam Rabbani, Khalid, dan para sahabat mereka. Para tokoh dakwah semacam itu menerangkan dakwah mereka dengan bukti-bukti ilmiah yang berkembang pada masanya, sehingga pembicaraan mereka diterima secara baik oleh para pendengar mereka.

Dakwah For Entertainment maksudnya adalah dakwah untuk hiburan serta menghibur hati masyarakat yang mencerahkan lagi menggembirakan hati serta dapat diterima yang kemudian menjadi amalan praktis ummat. Hiburan yang dimaksud bukan hiburan malam, hiburan negative atau hiburan-hiburan lainnya yang tidak sesuai dengan ajaran Islam tentunya, merangkul ummat dengan baik dan mengajarkannya arti Islam melalui dakwah yang menghibur dengan materi kisah dsb. Hiburan dan dakwah seringkali dihadapkan secara berseberangan. Seolah hiburan bertentangan dengan dakwah islamiyah, dan sebaliknya dakwah islamiyah harus jauh denngan hiburan. Penghadapan hiburan dan dakwah memang berlasan, sebab seringkali hiburan tidak mengindahkan etika dan ajaran agama. Sebaliknya, penyampaian ajaran agamatidak diperkenankan dilakukan secara comedian, dalam artian ajaran agama tidak diperkenankan dijadikan sebagai bahan guyonan (gurauan). Sebab penyampaian ajaran agama secara gurauan dikhawatirkan agama menjadikan ajaran agama sebagai bahan ejekan belaka. Pembahasan dilakukan dengan berpijak pada substansi atau filosofi daakwah itu sendiri. Dengan demikian, permasalahan dakwah dikaji dengan pendekatan filsafat, khususnya filsafat sosial. Dengan tujuan agar ditemukan pemahaman bahwa dakwah tidak dilakukan secara formal dan hitam putih, tetapi lebih bersifat fungsional, sehingga secara perlahan akan dapat mempengaruhi dan mengisi ruang ideologis kehidupan bermasayarakat yang menjadi obyek dakwah.

Dakwah dalam konteks sosial yang dipenuhi dengan perkembangan teknologi komunikasi tidak dapat dilakukan secara hitam putih. Teknologi komunikasi telah menjadi sarana berkomunikasi masyarkat secara efektif dan bahkan massif, sehingga siapapun tidak dapat mengelak dari perkembangan ini. Pada saat dakwah dilakukan secara fungsisonal, yakni bagaimana teknologi komunikasi yang telah merambah dalam berbagai dimensi sosial, maka nilai-nilai agama secara perlahan akan menjadi bagian dari kerangka berpikir masyarakat. Sebagaimana gerakan Pan Amerikana yang dilakukan oleh negara super power dengan memanfaatkan media sosial yang ada, di antaranya adalah media hiburan dalam hal ini film, secara ampuh telah menggiring opini dunia sebagaimana yang diinginkan. Islam jika didakwahkan secara fungsional, dengan memanfaatkan media massa yang ada, seni, budaya, termasuk film, akan dapat membangun ideology keislaman secara perlahan dan tanpa disadari. Islam tidak dianut secara formal saja, tetapi juga dipraktikkan dan menjadi bagian dari kerangka berpikir masyarakat secara umum. Itulah yang kita harapkan. Untuk itu, komedia, seni, film, dan sebagainya harus disadari sebagai sarana dan media dakwah yang efektif. Oleh karenanya, para pelaku dakwah (dai) seyogyanya memanfaatkan itu semua demi perkembangan dakwah islamiyah. Kini marilah kita bicarakan tentang permasalahan yang sering dianggap tidak penting, akan tetapi tidak boleh ditinggalkan. Yaitu, hendaknya seorang da'i senantiasa peduli secara sungguh-sungguh untuk membina pemikiran umat yang menjadi sasaran dakwahnya, dan jangan sampai ia justru mempersempit ruang pemikiran mereka. Pada masa kita sekarang ini umat Islam terbagi menjadi cukup banyak kelompok. Oleh karena itu, setiap da'i harus memahami benar perasan masing-masing kelompok yang terlanjur ada, agar tidak menyakiti perasaan kelompok tertentu. Sehingga segala bentuk nasihat dan petunjuk yang disampaikan tidak cenderung ditolak oleh mereka. Setiap da'i hendaknya mempunyai qalbu yang lapang, toleransi yang cukup kepada kelompok-kelompok yang lain. Sebab, Allah Swt. tidak ridha jika ada seorang da'i yang mencaci segolongan orang atau kelompok di luar kelompoknya sendiri. Allah Yang Mahaadil tidak akan ridha kepada siapa saja yang menyakiti perasaan orang lain, apalagi menyakiti perasaan orang-orang beriman, atau memutuskan hubungan persaudaraan dengan mereka (kelompok lain). Tujuan utama seorang da'i adalah mengajak orang ke jalan Allah yang Esa, tanpa membiarkan ada atau berkembangnya potensi perpecahan di antara mereka. Kalau seorang da'i menyakiti kelompok yang lain, maka ia tidak akan sanggup mempersatukan perbedaan pendapat di antara umat Islam. Bahkan ia akan cenderung memperbesar perpecahan di antara sesama. Pengetahuan seorang da'i terhadap pemikiran dan keyakinan setiap kelompok dalam masyarakat Islam perlu diperluas. Sebab, ia bertugas menyatukan pemikiran di antara umat Islam. Jika berdakwah merupakan suatu kewajiban, maka mempelajari cara berdakwah yang terbaik merupakan kewajiban yang lain. Misalnya, jika musuh tiba-tiba menyerangmu dengan senjata mesin, maka engkau harus menghadapi mereka dengan senjata yang serupa, agar engkau tidak mati konyol dibuatnya. Jika seorang da'i tidak mengetahui cara berdakwah yang baik, maka usaha dakwahnya tidak akan pernah berhasil, malah akan berbuah sebaliknya. Oleh karena itu, mempelajari cara berdakwah yang baik adalah suatu ilmu yang tidak boleh dilupakan oleh setiap da'i.

Jumat, 08 Juni 2018

Untukmu Ayah Dan Ibuku


Oleh : Al Azzad 

Sebagai anak pastilah memiliki kesalahan terhadap orang tuanya, entah itu disengaja ataupun tidak disengaja kepada mereka. Seorang ayah yang sangat hebat dan tangguh untuk menafkahi keluarganya agar anaknya kelak bisa sukses dan bahagia. Seorang ibu dengan tulus dan ikhlas selalu mendidik dan membimbing anaknya agar senantiasa tumbuh menjadi anak yang cerdas dan kuat. Kerjasama antara ayah dan ibu dalam membangun keluarga yang bahagia, keluarga penuh cinta dan kasih saying adalah impian semua orang tua dan anaknya. Ketika kita menjadi anak, banyak hal yang kita rasakan dan dapatkan pelukan hangat dari ayah dan ibu. Hanya saja terkadang sebagai anak selalu membuat ulah, sehingga terkadang orang tua sangat kerepotan dalam menghadapi anaknya.

Sebagai anak terkadang berpikir setelah mulai lebih matang disaat tumbuh semakin dewasa, ingin rasanya membalas jasa atau balas budi terhadap ayah dan ibunya meskipun sebenarnya itu adalah hal yang sangat mustahil. Sebab perjuangan dan pengorbanan orang tua itu tidak akan terbalas dan terbayarkan oleh apapun itu. Hanya dengan memberikan kebahagiaan yang terlihat sederhana saja pun mereka sudah bangga tanpa harus berorientasi pada materi. Memberi kabar, mengajak wisata, kumpul bersama, makan bersama dan hal-hal kecil lainnya itu sudah membuktikan bahwa kita sebagai anak bisa membahagiakan orang tua asalkan niatnya tulus. Karena orang tua senang jiakalau anaknya memberikan perhatian kepadanya layaknya ketika ia masih kecil dulu.

Untukmu wahai ayah dan ibuku adalah sebuah kata yang sangat singkat dan sederhana, namun terkadang sebagai anak masih sulit untuk dapat merealisasikannya. Terkadang kalimat itu justru lebih mendekati kepada hal yang sangat tidak menyenangkan hati ayah dan ibu. Lupa akan jasa orang tua adalah penyakit seorang anak yang tidak lagi mengingat sejarah hidupnya bersama ayah dan ibunya. Maka sudah sepantasnya dan sepatutnya kita harus bisa memberikan sesuatu hal, dan mulai berkata untukmu ayah dan ibuku. Jangan menunggu sukses atau mapan serta kaya raya, jangan menunggu disaat punya jabatan atau pangkat, jangan menunggu sampai waktu yang tepat, tapi segerakanlah itu karena usia dan maut siapa yang akan tahu. Tidak ada jaminan ayah ataupun ibu bahkan anak bisa hidup lebih lama ataukah lebih dulu meninggalkan orang-orang yang tercinta.

Untukmu ayah dan ibuku, lihatlah betapa aku sayangnya kepadamu hingga ku relakan apapun yang bisa ku berikan dan lakukan untukmu. Karena aky tahu sampai kapan jasamu akan terus abadi seperti rasa cinta dan kasih sayangmu. Maafkan bila dulu aku selalu menyakitimu, membencimu dan mendustakanmu. Semua itu karena kelemahanku dan kekkhilafanku yang terlalu naïf dan terkadang tidak bisa memahamimu ibu. masalahku, urusanku, pekerjaanku dan semua aktivitasku terkadang tak lagi sempat untuk menyapamu bahkan melihatmu. Tapi percayalah bahwa aku selalu menyayangimu ayah dan ibuku, semoga aku menjadi anak yang berbakti dan anak yang soleh lagi solehah. Karena aku ingin kita bersama dalam suka maupun duka dan selalu ada sampai kapan pun itu karena untukmu ayah dan ibuku.

Tenggelamnya Gaya Politik Pencitraan

Oleh : Al Azzad  Ada masa dimana dulu demokrasi sempat heboh dengan model politik pencitraan yang dikemas apik sedemikian rupa. Dit...