Jumat, 15 Juni 2018

Kisah Kesuksesan Nabi Ibrahim


Oleh : Al Azzad 

Sejarah perjalanan hidup Nabi Ibrahim begitu kompleksitas pada masanya, dari berbagai hal kehidupan termasuk dalam aspek sosial, agama, budaya dan kepemimpinan. Ayah Nabi Ibrahim bernama Azaar yang berprofesi sebagai pembuat, pemahat, pencipta, dan penjual patung yang menjadi sesmbahan masyarakat pada saat itu sebagai Tuhan yang mereka sembah. Nabi Ibrahim termasuk anak yang cerdas dan kritis yang sudah berpikir tentang Ketuhanan terhadap ayahnya sendiri. Apalagi ayahnya seorang pembuat patung Tuhan yang disembah oleh orang lain. Amilah adalah ibu dari Nabi Ibrahim yang sangat dekat kepadanya. Sedangkan Nabi Ibrahim memiliki dua saudara lainnya atau ternasuk tiga bersaudara yakni Haran, Nahor dan Ibrahim. Semasa kecil Nabi Ibrahim suka sekali bermain di tempat kerja ayahnya dan suka menunggangi patung yang berbentuk hewan yakni patung Mardukh, sehingga Azaar ayahnya melihat dan sangat marah besar kepadanya saat itu yang dikarenakan Tuhannya sedang dipermainkan oleh anaknya sendiri. Nabi Ibrahim termasuk disebutkan sebanyak 69 kali dalam Al-Qur’an jauh lebih banyak ketimbang Nabi Muhammad yang hanya sebanyak 4 kali. Itulah kenapa Nabi Ibrahim sebagai bapak monoteis atau bapak pelopor yang meyakinkan Tauhid atau tentang keesaan Alllah sebagai Tuhan yang sesungguhnya. Yahudi dan Nasrani menyebutnya sebagai Abraham dan Hindu menyebutnya sebagai Brahmana. Adapun gelar yang dijuluki dan melekat pada Nabi Ibrahim ialah Abul Anbiya (Bapak Para Nabi), Ulul Azmi (Nabi yang paling sabar dan istiqomah), dan Khalilul Rahman (Kekasih Allah). Nabi Ibrahim sudah menyadari hidupnya ialah untuk menjadi pemimpin atau Imam bagi seluruh manusia. Hal itu didapatkan melalui perintah dan larangan Allah terhadapnya dari beberapa dialog serta mukjizat yang dimilikinya. Pada usianya yang masih kecil, Nabi Ibrahim termasuk anak yang menjadi penghibur bagi orang tuanya dan mulai menjadi seorang anak yang dewasa yang juga justru selalu berbeda pandangan terhadap ayahnya sendiri mengenai konsep Ketuhanan yang selama ini diyakini. Kisahnya yang dulu menghancurkan beberapa patung sebagai Tuhan yang disembah dan menyisakan satu patun g yang paling besar dengan mengalungkan kapak di leher patung tersebut. Lantas pada saat itu juga Raja Namrud murka dan geram pada Nabi Ibrahim yang diketahui oleh bala tentaranya karena ternya Nabi Ibrahim lah pelakunya yang telah menghancurkan Tuhan mereka. Maka Nabi Ibrahim pun dibakar dengan bara api yang sangat besar, namun  dengan mukjizat yang dimilikinya dari Allah maka selamatlah dari panasnya api yang membakar dan Nabi Ibrahim pun tidak terbakar oleh api. Saat itulah banyak yang menyaksikan fenomena tersebut sehingga memunculkan dua kubu yakni kubu yang semkain membenci dan kubu yang semkain percaya dan mendekat pada Nabi Ibrahim. Mukjizat lainnya ialah seperti melihat burung yang mati kemudian kembali menjadi hidup karena kuasa Allah untuk membuktikannya kepada Nbai Ibrahim arti Tauhid dan arti Tuhan Yang Maha Esa. Ibrahim memiliki dua istri yang pertama adalah sarah dan setelah itu menikah dengan Siti Hajar karena menghasilkan keturunan maka perceraian pun terjadi. Sebab Siti Hajar adalah budak dari sarah. Siti hajar melahirkan Nabi Ismail sedangkan selang beberapa waktu sarah pun lahir melahirkan Nabi Ishaq. Saudara pertamanya Nabi Ibrahim yakni Haran memiliki anak yang bernama Nabi Luth. Sedangkan Nabi Yakud adalah cucu dari Nabi Ibrahim. Kesuksesan nabi Ibrahim sangat kompleks termasuk yang pertama adalah hidayah kebenaran, Aplikasi yang sangat sempurna terhdap konsep Ketuhanan dan membangun keluarga yang sangat bahagia. Sebab arti dari Nabi Ibrahim sendiri secara harfiah adalah Bapak Penyayang. Dari kecil, remaja bahkan dewasa terlihat bahwa kecerdasan dan kesuksesan Nabi Ibrahim membangun dari lingkungan keluarganya sampai masyarakat sangat religius dengan nilai-nilai konsep tauhid ketuhanan.

Kamis, 14 Juni 2018

Model Kepemimpinan Yang Islami


Oleh : Al Azzad 

Menjadi pemimpin yang islami berdasarkan aspek agama dalam memimpin suatu negara atau wilayah tertentu, maka penanaman pondasi dasarnya ialah menjadi pemimpin yang memiliki semangat spritualitas dan religiusitasnya yang sangat tinggi. Kepemimpinan yang islami bukan berarti hanya memahami agama islam sebagai satu-satunya jalan dalam menerapkan kepemimpinan, melainkan memahami secara totalitas dalam hal kepemimpinan tersebut. Ada beberapa metode untuk menjadi seorang pemimpin yang sudah diajarkan oleh Rasul Saw. Sebab tugas utama manusia di muka bumi ini menjadi seorang khalifah yang akan menjaga, melindungi, dan mengelola kehidupan. Hal ini dikarenakan agar tidak terjadi pergeseran makna pemimpin Islam.

Dengan metode SIFAT yakni Siddiq, Ikhlas, Fatonah, Amanah dan Tabligh. Penambahan metode dalam kata ikhlas ialah bentuk interpretasi dalam memhami pemimpin yang islami berdasarkan dari segi konsep dari generasi qur’ani dan generasi rabbani. Bahwa seorang pemimpin yang islami itu harus benar perkataanya, terjaga lisannya, dan retorikanya sangat luas dalam memahami segala konteks dengan analisis yang sangat mendalam. Ikhlas menjadi pondasi dasarnya, agar ketika menjadi pemimpin bukan semata untuk mencari kepentingan, kekuasaan, dan kebanggan dalam memimpin. Ikhlas juga akan memupuk sikap humanitas, progesivitas, dan kerativitas seorang pemimpin. Cerdas juga merupakan ciri dan cara seorang pemimpin yang islami dalam membaca situasi dan keadaanya terkait problematika dan persoalan yang besifat kontroversi dan konfrontasi. Kepercayaan atau orang yang dipercaya sebagai pemimpin yang diamanahi dalam mengurus segala aspek kehidupan dari berbagai sector baik itu ekonomi, politik, sosial, budaya, pendidikan dan sebagainya. Jangan sampai pemimpin yang mengkhianati rakyatnya dan mengkhianati dirinya sendiri. Kepercayaan itu adalah sebuah mutiara dalam kehidupan yang harus dijaga dan terjaga, jangan sampai mutiara itu hilang hanya karen keserakahan dan keotoriteran pemimpin yang bukan lagi beralasan untuk mengatakan khilaf, manusiawi, lalai dan salah. Dan yang selanjutnya adalah seorang pemimpin yang islami senantiasa tabligh dalam menyampaikan kebenaran dan keadilan. Sebab sebagai seorang pemimpin memiliki besar tanggung jawabnya yang bukan hanya sebatas bertanggung jawab dalam urusan tertentu tapi harus secara kompleks dalam menerima konsekuensinya sebagai pemimpin yang bertanggung jawab. Maka komitmen, konsisten, dan konsekuen harus dipegang oleh seorang pemimpin. Bersikap inklusif, progreasif, kreatif, inovatif, produktif, solutif, dan inspiratif.

Wanita Yang Dirindukan Surga


Oleh : Al Azzad 

Manusia diciptakan berpasang-pasangan oleh Allah, baik yang laki-laki maupun yang perempuan. Hal tersebut adalah untuk saling ta’aruf dan bisa mengikuti sunnah Rasul yakni menikah sebagai pasangan yang halal sesuai dengan syariat Islam tentunya. Dalam hal ini lebih membahas terhdapa posisi dan kehadiran wanita sebagai makhluk yang sangat rentan dan cendrung lebih menggunakan perasaan sebagai kekuatan dalam menyikapi segala persoalan. Perasaan ini lebih didominasi oleh hati sebagai bentuk intuitif dalam memutuskan perkara ataupun pilihan yang berkaitan dengan fenomena kehidupan yang dijalani serta dihadapi. Meskipun banyak yang berpendapat bahwa wanita adalah jumlah terbanyak dalam neraka, namun wanita juga memiliki kemudahan utama dalam memasuki surga sebagai tempat kehidupan yang hakiki. Islam memandang wanita itu bukan sebagai makhluk rendahan, melainkan memuliakan para wanita yang menjadi insan pembawa rahmat dalam bentuk regenerasi terhadap perkembangan manusia.

Banyak sejarah yang bisa dilihat dari perjuangan Khadijah, Hindun, Aisyah, Fatimah, Rabiatul Adawiyyah dan sebagainya. Para wanita yang begitu istiqomah, sabar, dan ikhlas dalam menjalani hidup serta menjadikan mereka sebagai calon penghuni surga kelak. Peran dan posisi wanita dalam Islam bukan sebatas pembantu dalama rumah tangga, sebab hal itu juga idealnya para lelaki pun harus melakukannya demi keharmonisan dalam berumah tangga. Melainkan wanita merupakan Ibu sebagai sekolah pertama bagi buah hatinya yang akan mengajarkan banyak hal baik itu ilmu horizontal maupun ilmu vertikal.

Wanita yang dirindukan surga adalah wanita yang taat pada imamnya dalam kebaikan, senantiasa meminta izin atau persetujuan dari imamnya ketika melakukan aktivitas di luar rumah. Tanggung jawab dalam tugasnya sebagai seorang wanita baik sekaligus menjadi seorang ibu, sebagai wanita karir atau bahwa seorang wanita yang memiliki posisi administratif dalam sebuah lembaga. Hak dan kewajiban seorang wanita dalam perspektif Islam jauh lebih kompleks tidak hanya sebatas dalam pembahasan gender ataupun emansipasi, melainkan secara totalitas dan komplesitas pun dibahas dalam kewanitaan atau kemuslimahan di dalam Islam.

Menjaga marwah atau harga dirinya sebagai seorang wanita muslimah, menjaga aib keluarganya, menjaga harta sebagai amanah dari imamnya, dan menjaga buah hatinya yang merupakan tanggung jawab dan tugasnya seorang wanita yang senantiasa dirindukan surga. Menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan, tarbiyah terhadap buah hati, dakwah terhadap lingkungan sekitar, serta berupaya pula dalam menegakkan agama Allah. Tidak ghibah atau menggunjing, tidak bermusuhan, apalagi bersifat israf atau berlebih-lebihan dalam memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarganya.

Rabu, 13 Juni 2018

Spirit Dakwah Rasul Saw


Oleh : Al Azzad 

Spirit dakwah Rasul merupakan bentuk sinergitas terhadap semua elemen dalam mengembangkan misi dakwahnya untuk menyebarkan agama Islam agar mengatur segala peroslan kehidupan yang sesuait dengan syariat. Jika melihat rekam jejaknya dimulai dari masa kanak-kanak, remaja, muda, dewasa dan sampai pada usianya yang lanjut semua sangat bermakna dari segi spirit dakwahnya. Tidak pernah terlepas, terputus dan terhenti spirit dakwah Rasul Saw. Segala ujian, cobaan dan rintangan dilalui satu per satu dengan kedamaian seperi makna Islam secara hafiah yakni damai, aman, sentosa, tentram, selamat dan sejahtera. Itulah sebenarnya makna Islam secara mendasar yang seharusnya mampu dipahami oleh umat mulimin pada umumnya.

Ada beberapa strategi dakwah yang dilakukan dimulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan hingga sampai pada wilayah penguasa dalam memipin pun masuk di dalamnya untuk mengatur kehidupan yang masuk dalam bentuk ranah kebijakan dan kepemimpinan. Masa kecil dan remajanya sudah mendapat julukan sebagai Al-Amin, Al-Ifah dan Amanah. Sebagai remaja yang sangat jujur baik dalam perkataan maupun dalam aktifitas hidupnya sehari-hari tak pernah lepas dari yang namanya integtitas terhadap kejujuran. Sebab, sifat jujur itu bukan persoalan mudah itu merupakan bentuk karakter bila semenjak kecil sudah ditanamkan kejujuran maka sampai dewasa pun akan melekat karakter tersebut dan itu terbukti di dalam diri Rasul Saw. Kemudian bergelar Al-Iffah maksudnya adalah sikap dan perilakunya tergaja dari lingkungan sekitarnya yang sangat mendominasi tradisi-tradisi dan kegiatan yang jauh dari agama dan kebaikan. Tidak seperti masyarakat pada umumnya yang suka berfoya-foya, mabuk-mabukan dan judi muapun sebagainya. Sikap al-iffah ini akan menjadikan karakter kuat bagi seorang pemimpin khususnya adalah yang memiliki spirit dakwah Rasul Saw. Amanah juga merupakan sifat yang baik untuk menjadikan sesorang sebagai pemimpin yang bertanggung jawab. Dapat dipercaya dan dipercayakan oleh masyarakat dalam hal apapun baik itu dalam menjaga harta, menjaga rahasia, menjaga janji, menjaga tugas dan menjaga dalam persoalan maslahat maupun individu.

Spirit dakwah Rasul yang bisa dipetik ialah mengenai kebijaksanaan sebagai pemimpin yang arif, istiqomah dalam hal apapun, memiliki kepedulian sosial yang sudah jauh dari moralitas, memperhatikan orang-orang yang wajib mendapatkan haknya dalam asnaf, peka terhadap isu yang terjadi di masyarakat, menjadi seorang yang sangat solutif, tidak membeda-bedakan orang pendatang dan pribumi, mampu menyelesaikan perkara yang sangat rentan konflik, memahami strategi politik dalam ranah kekauasaan pada perluasan wilayah, melindungi keluarga dari segala marahbahaya, dan senantiasa menjadi pemimpin yang memahami segala perosalan kompleksitas.

Mabrur Sebelum Ke Baitullah


Oleh: Al Azzad 

Salah satu rukun Islam yang merupakan praktik ibadah yang dapat digunakan sebagai bentuk kesempurnaanya dalam Islam yang berikhtiar untuk meningkatkan kualitas iman dan takwanya. Setiap manusia pasti memiliki keinginan dan harapan akan ibadah haji dan umrah ke tanah suci. Besarnya hasrat untuk meningkatkan kualitas ibadah dengan niat ingin pergi ke baitullah adalah merupakan jihad dan jalan dakwah terhadap sesuatu yang ingin dicapai dalam perjalanan yang cukup jauh dan panjang. Bersyukur bagi yang telah menemukan rukun islam yang lima yang telah tergerak dan terpanggilkan ke baitullah, atau yang sudah berkali-kali kali pelaksanaan ibadah haji tersebut.

Keinginan memperoleh predikat sebagai Haji Mabrur artinya menjadi haji yang sempurna, soleh, berkah, diterima, penuh anugerah, semakin berkualitas iman dan takwa, menjadi orang yang sangat ikhlas, memiliki kepedulian yang besar dan mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Haji abadi bentuk wisata hasrat dalam konteks keingina dan kebutuhan semata, dan haji adalah wisata hati atau wisata spritualitas yang semakin mendalam dan menjiwai makna semangat religuisitas dan ritualitasnya. Memenuhi hal-hal yang sangat wajar untuk mabrur setelah dilakukan haji dan umrah bagi yang sudah memiliki kesempatan untuk menunuaikannya.

Namun, istilah mabrur sebelum ke baitullah adalah salah satu proses yang luar biasa bentuk amal perbuatan yang dijalankan dengan baik meskipun sebelum menunaikannya. Mabrur sebelum ke baitullah merupakan kondisi persiapan yang akan menjadi bekal perjalanan ke Rumah Allah, sehingga perlu syarat untuk melakukan itu. Persiapan bukan hanya untuk administratifnya ada lebih banyak lagi untuk lebih dari satu tujuan bahkan untuk memperbaiki atau memulihkan diri yang begiti israf dan berlebihan. Karena akan muncul pula ujub, riya, bangga, israf, takabbur dan gila, ketika telah selesai melaksanakan ibadah haji dan umrah tersebut. Hal yang seperti inilah yang harus dihindari dan diturunkan agar mendapat gelar mabrur pula sebelum ke baitullah.

Kategori mabrur pada hakikatnya ada beberapa tahapan yaitu, mabrur pra haji, mabrur proses haji, dan mabrur pasca haji. Bagi orang yang sudah memantapkan dirinya dengan berujud untuk melaksanakan haji dan umrah, maka sudah mulai terjadi hal-hal yang dimulai dari mabrur pra haji yang mempersiapkan dan melatih mental serta fisik yang berhubungan dengan ritualitas ibadah dan bentuk ritualitas sosial yang seimbang. Kemudian mabrur dalam proses haji yaitu dalam melaksanakan haji yang sedang berlangsung tidak menjadikan dirinya sebagai overprayer atau pribadi yang ego dalam melaksanakan ibadah haji tak peduli, saling sikut, saling senggol dan sebagainya yang merupakan kasus yang sering terjadi di mekkah dan Madinah. Dan terakhir adalah mabrur pasca haji yang merupakan gelar yang akan terus melekat pada diri seseorang yang telah usai dan pernah mengalaminya. Maka tantangan terbesarnya adalah menjaga gelarnya sebagai manusia yang taat dan sebenarnya mabrur dalam ibadah haji dan umrahnya.

Selasa, 12 Juni 2018

Al-Qur'an Pedoman Hidup Manusia


Oleh : Al Azzad 

Al-Qur’an adalah pedoman hidup manusia dan khususnya diyakini oleh umat muslim sebagai kitab suci yang mengatur segala tatanan kehidupan serta menjadi pedoman bagi manusia pada umumnya untuk mengambil hikmah di dalamnya. Segala sumber ilmu pengetahuan dan kemajuan yang diciptakan manusia di dunia ini, tercantum di dalam Al-Qur’an yang sebagain besar kita temukan dan sebagaian lagi yang masih belum ditemukan dalam menginterpretasikannya. Al-Qur’an merupakan kalamullah yakni perkataan Allah yang diturunkan melalui perantara malaikat Jibril sebagai wahyu kepada Nabi Muhammad Saw. Mempelajari Al-Qur’an secara kompleks dan kompeherensif akan membuka segala intelektualitas dan rasionalitas kita dalam memahami isu serta problematika kontemporer.

Al-Qur’an bagaikan google dan gps manusia saat ini, jika ingin mencari sesuatu ilmu pengetahuan. Hanya saja Al-Qur’an selalu mengarahkan kepada kebajikan dan secara detail dalam menjelaskan antara maslahat dan mudhorot. Bila google sebagai browsing yang bisa menjelajahi informasi apa saja yang diinginkan manusia dan tidak memperdulikan mana informasi baik atau buruk dan positif dan negative, maka manusia bisa menjadi hancur lagi celaka. Secara harfiah bisa menjadi sama, akan teapi secar terminologis akan jauh berbeda sebab berkaitan dengan substansinya. Tidak rugi dalam membaca Al-Qur’an karena bisa dirasakan secara langsung atau tidak langsung maupun secara realita atau maya. Sudah sangat banya mufassirin yang menafsirkan, menjelaskan, menginterpretasikan konteks ayat dengan situasi dan kondisi masyarakat. Dari makna tekstual sampai pada kontekstual dapat digambarkan secara jelas dan mendalam.

Al-Qur’an adalah pembeda, kitab, keterangan yang jelas, pengobat, penyembuh, petunjuk, dan pembenar yang menjadi pedoman manusia. Jika diantara kita masih ragu dan meragukan Al-Qur’an, maka sudah dipastikan hati, akal, dan perbuatannya mati serta beku akan Islam. Al-Qur’an bukan hanya sekedar teks yang menjadi senjata bagi kaum yang suka sesat dan menyesatkan, bahkan juga menjadi curian referensi bagi kaum intelektualis dalam memainkan rasio dengan bentuk studi empiris yang ingin diklaim sebgai bentuk ilmiah. Terlalu banyak manusia yang merasa dirinya telah melampaui ilmu dalam Al-Qur’an, padahal dan andaikan saja tidak ada Al-Qur’an di dunia sebagai kita revisi terakhir dalam kita sebelumnya maupun kitab yangs sempurna. Sudah dipastikan bahwa amat hancurlah dan kacaulah dunia saat ini, sangat gelap akan cahaya kedamaian, keadilan, ketentraman, kesejahteraan, keharmonisa dan keruukunan. Sebab manusia itu cendrung ingin berkuasa dan menguasai, ingin perang dan memerangi, ingin merusak dan menghancurkan, semua karena terbawa nafsu yang terlalu besar ditempuh dengan cara-cara nalar yang terkadang dianggap sebagai pengetahuan berasal dari kepala ataupun akal manusia semata. Al-Qur’an tidak terlepas dari hal apapun, bukan masa/zaman/periode yang diikuti oleh Al-Qur’an melainkan semua itulah yang terus berjalan sesuai dengan aturan Al-Qur’an. Kita kapan saja akan mati, namun Al-Qur’an sampai kita matipun akan terus hidup bagi manusia lainnya bahkan dulu sampai sekarang Al-Qur’an masih tetap hidup dan redaksi atau kontennya atau matannya masih sama. Manusia bisa berubah dan merubah makna tafsirannya akan tetapi tidak akan ada mansuia sehebat, sepintar, secerdas, sekuat, seintelejen, secerdik apapun yang bisa membuat serta menambhakan teksnya.

Maka jadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup yang paling mutlak dan tertinggi posisinya, jangan sampai menjadi pedoman serta bacaan yang menjadi nomor urut sekian. Jika hal kecil yang sederhana saja kita lalai dan melalaikan Al-Qur’an, maka sudah dipastikan hidup kita bukan untuk Al-Qur’an melainkan untuk setan dengan pedoman kemaksiatan manusia.

Merasakan Indahnya Manfaat Sedekah


Oleh : Al Azzad 

Ada hal lain yang selama ini masih dianggap kurang dan tidak ada manfaat oleh ummat muslim yakni berkaitan dengan sedekah. Ibadah yang kita lakukan hanya sebatas ritualitas dalam aktivitas terhadap pemahaman keagamaan tersebut. Sedekah juga merupakan bentuk amalan ibadah yang berkaitan dengan social terhadap bentuk kebersamaan dan saling tolong-menolong antara satu dengan yang lainnya. Islam merupakan agama yang mengajarkan tentang sedekah agar peduli terhadap sesamanya dan bisa membantu kesulitan saudaranya. Sedekah bukan berarti akan menghabiskan dan mengurangi harta benda yang kita miliki. Melainkan dengan bersedekah berarti akan menambhkan investasi rezeki yang suatu saat dan setiap saat akan kita nikmati dan rasakan secara sadar atau tidak sadar. Sedekah bukanlah bentuk amalan untuk riya atau sebagai bentuk status social bahwa dengan bersedekah termasuk golongan kaya dan memiliki harta benda yang berlimpah ruah. Namun sedekah untuk mendekatkan diri kita kepada Allah yang Maha luas rizki Nya terhadap hambanya.

Dengan bersedekah banyak manfaat yang bisa kita rasakan tentunya, baik itu manfaat dalam hal kehidupan sehari-hari maupun manfaat lainnya. Menambhakn rezeki, memperpanjang umur, menjauhkan dari segala bala, terhindar dari musibah, menyembuhkan penyakit dan menjadi pengobat hati. Orang yang bersedekah dengan ikhlas dan semata untuk memberi karena lillah pasti akan merasakan kepuasan tersendiri yang tak akan bisa diukur dan dijelaskan. Manfaat sedekah ini adalah bonus dari Allah terhadap amal yang sudah kita lakukan dan itu merupakan bentuk hasil yang pasti. Sedangkan feedback yang bisa kita rasakan dengan melakukan sedekah ialah bisa mengabulkan doa-doa atas hajat yang selalu diinginkan. Sehingga tak akan pernah sanggup dan puas serta terhitung terhadap segala kenikmatan yang kita dapatkan dari sedekah.

Sedekah itu tidak mesti berbau materi atau kebendaan secara fisik, banyak yang bisa kita sedekahkan terhadap siapa pun. Namun keseimbangan itu sangat perlu dilakukan dalam sedekah antara sedekah yang bersifat materi dan sedekah walau hanya sebatas doa. Tidak ada ruginya dalam bersedekah, justru yang merugi adalah orang yang tidak bersedekah yang dikarenakan belum tentu akan mendapatkan kesempatan di lain waktu untuk melakukan sedekah ketika baru menyadari yang namanya bekal hidup sesungguhnya. Sedekah akan mengantarkan energy posistif dan energy nikmat yang terus mengalir. Sedekah bagaikan tenaga untuk tidak memutuskan energy agar terus mengalirkan kenikmatan yang kita rasakan. Hanya saja jangan sampai kita menjadi israf dan menjadi lupa diri terhadap kewajiban yang lain.

Dengan sedekah tersebut, maka aliran rezeki dan kenikmatan akan terus mengalir bagaikan keran yang tidak pernah ditutup ataupun bagaikan aliran sungai yang tidak pernah kering. Terhambatnya rezeki dan kenikmatan dikarena adanya bentuk yang dapat menyumbat serta menghalanginya yang tidak dilakukan dengan sedekah terhadap orang lain.

Tenggelamnya Gaya Politik Pencitraan

Oleh : Al Azzad  Ada masa dimana dulu demokrasi sempat heboh dengan model politik pencitraan yang dikemas apik sedemikian rupa. Dit...